43 PELATIHAN PEMBUKUAN SEDERHANA BAGI WANITA WIRAUSAHA BATIK JONEGORO DI KABUPATEN BOJONEGORO Nur Laily, Yudi Sidharta, David Efendi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya Corresponding author: nurlaily@stiesia.ac.id ABSTRACT The purpose of Community Service Activities Simple Bookkeeping Training for Women entrepreneur batik Jonegoro is able to make simple bookkeeping so that it is orderly in carrying out its financial records so that it can be measured the expenditure, income and profits obtained and can know the progress of the business. The method used by training. The results obtained from this training activity are able to increase entrepreneurial knowledge and skills in making simple bookkeeping so as to increase motivation in work. The conclusion is simple bookkeeping training received a positive response and businesses get knowledge and skills about new insights in running their business through simple financial bookkeeping/recording that is easy to apply. Keywords: Simple Bookkeeping, training. Jonegoro Batik, women entrepreneur. SMEs. ABSTRAK Tujuan dari Kegiatan Pengabdian Masyarakat Pelatihan Pembukuan Sederhana bagi wanita wirausaha batik Jonegoro adalah mampu membuat pembukuan sederhana agar tertib dalam melakukan pencatatan keuangannya sehingga dapat terukur pengeluaran, pemasukan dan keuntungan yang diperoleh serta dapat mengetahui perkembangan usahanya. Metode yang digunakan dengan cara pelatihan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pelatihan ini adalah dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan wirausaha di dalam membuat pembukuan sederhana sehingga meningkatkan motivasi di dalam bekerja. Simpulannya yaitu pelatihan pembukuan sederhana mendapat respons yang positif dan pelaku usaha mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai wawasan baru dalam menjalankan usahanya melalui pembukuan/pencatatan keuangan sederhana yang mudah diaplikasikan. Kata kunci: Pembukuan sederhana, pelatihan, batik Jonegoro, wanita wirausaha,UMKM. PENDAHULUAN Kewirausahaan merupakan salah satu faktor pendorong peningkatan perekonomian Indonesia. Kewirausahaan melalui Usaha Mikro kecil menengah diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas dan kemampuan masyarakat dalam menyalurkan ide dan kreasinya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di Indonesia. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia merupakan salah satu soko guru perekonomian Indonesia selain koperasi. Hal ini dapat terlihat dari bukti nyata bahwa sebagian besar UMKM di Indonesia tidak menghadapi krisis di tengah tengah krisis global pada tahun 2008 lalu. Perkembangan jumlah UMKM dari tahun ke tahun semakin bertambah. Perkembangan UMKM baru terlihat dari sisi jumlahnya saja. Secara umum, khususnya dalam aspek finansial, hanya sedikit UMKM yang mengalami perkembangan dalam hal kinerja keuangannya. Hal ini tak lepas dari ketidaksadaran pelaku UMKM terhadap pentingnya pengelolaan keuangan perusahaan. Kabupaten Bojonegoro memiliki banyak potensi usaha yang menjadi sumber mata pencarian utama penduduk di sekitarnya. Mulai dari industri makanan, industri kerajinan, industri tekstil, dan industri agrobisnis semuanya berkembang pesat dan menghasilkan produk komoditas yang memiliki nilai jual cukup tinggi. Saat ini sedikitnya terdapat 112.140 pelaku UMKM yang tersebar di 27 kecamatan yang ada di wilayah kabupaten Bojonegoro. Beberapa diantaranya bahkan tidak hanya sukses memenuhi kebutuhan pasar nasional, namun juga berhasil menembus pesatnya persaingan pasar internasional. Mayoritas pelaku usaha sudah merasa puas dengan hasil yang sudah dicapai saat ini. Beberapa pelaku usaha juga mengalami demotivasi ketika mengalami kendala kendala dalam menjalankan operasional usahanya. Salah satu pelaku UMKM yang saat ini menjadi perhatian pemda Kabupaten Bojonegoro adalah UMKM Batik. Industri kerajinan batik yang terkenal di Kabupaten Bojonegoro yaitu motif batik Jonegoroan. Beberapa kecamatan yang menjadi sentra industri batik daerah tersebut antara lain di Kecamatan Sumberejo, Temayang, Dander, Purwosari, dan Kecamatan Kota Bojonegoro. Sekarang ini sedikitnya terdapat 50 UMKM batik Jonegoroan yang belum cukup tergarap dengan maksimal, sebaliknya banyak pelaku kegiatan UMKM