PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP MENTAL HYGIENE MAHASISWA DI KOTA BANDUNG Aufa Nur Aliftyani, Rahmatia Fadhilah Gunawan, Syavira Amir, Usup Romli Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudi No. 229, Isola, Kec. Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat, 40154 aufaaliftyani@upi.edu, rahmatia.fadhilah@upi.edu, syaviraamir@upi.edu, usupromli@upi.edu Abstrak Memiliki mental yang sehat merupakan sebuah impian setiap individu di dunia ini. Tekanan-tekanan dari luar mulai bermunculan pada masa remaja, pada masa ini individu harus bisa menyesuaikan dirinya terhadap perubahan-perubahan yang dialaminya, baik dari dalam diri individu itu sendiri, maupun dari luar. Hal ini dapat menimbulkan ketidakmampuan seorang individu untuk menyeimbangkan kemampuan beradaptasinya pada masa remaja ini, sehingga membuat individu tersebut rentan mengalami turunnya kesehatan mental. Religiusitas memiliki fungsi untuk menanamkan nilai-nilai positif pada diri individu, menjadi kontrol diri, bahkan dapat menjadi coping stress yang sedang dialami. Sehingga tingkat religiusitas dapat mempengaruhi tingkat kesehatan mental seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik mengenai pengaruh religiusitas terhadap mental hygiene pada remaja akhir. Teknik pengambilan data menggunakan quota sampling dengan subjek mahasiswa di Kota Bandung dengan sampel sejumlah 101 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu adaptasi dari instrumen yang dibuat oleh Stefan Huber & Odilo W. Huber, yaitu Centrality of Religiosity Scale untuk religiusitas, dan adaptasi dari instrumen yang dibuat oleh Veit & Ware, yaitu MHI - 38 (Mental Health Inventory) untuk mental hygiene. Uji analisis data penelitian ini menggunakan uji product moment pearson, dan hasil menunjukkan (r = 0,590 ; p = 0,00). Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh religiusitas terhadap mental hygiene atau kesehatan mental. Kata kunci: Religiusitas; mental hygiene; remaja. Abstract Having a healthy mentality is the dream of every individual in this world. Pressures from outside begin to emerge during adolescence, at this time the individual must be able to adapt himself to the changes he experiences, both from within the individual itself, and from outside. This can lead to the inability of an individual to balance his adaptability at this time of adolescence, thus making the individual vulnerable to mental health declines. Religiousity has a function to instill positive values in individuals, become self-control, and can even be coping with stress that is being experienced. So that the level of religiosity can affect the level of a person's mental health. This study aims to empirically examine the effect of religiosity on mental hygiene in late adolescents. The data collection technique used quota sampling with the subject of students in the city of Bandung with a sample of 101 people. The instruments used in this study are adaptations of instruments made by Stefan Huber & Odilo W. Huber, namely the Centrality of Religiosity Scale for religiosity, and adaptations of instruments made by Veit & Ware, namely MHI - 38 (Mental Health Inventory) for mental hygiene. The data analysis test of this study used Pearson's product moment test, and the results showed (r = 0.590; p = 0.00). This shows that there is an influence of religiosity on mental hygiene or mental health. Keywords: Religiousity; mental hygiene; adolescence. A. PENDAHULUAN Secara psikologis, mahasiswa sedang berada pada pada fase transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal, ini merupakan masa yang seringkali dikatakan sebagai masa yang sulit karena tuntutan penyesuaian terhadap perubahan-perubahan yang mereka alami. Pada masa ini mahasiswa mengalami perubahan psikososialnya yang mana ini sangat penting bagi perkembangannya. Perkembangan psikososial pada usia ini berada di tahap identity versus identity confusion, yaitu tahap dimana mahasiswa sedang mengalami pencarian identitas diri. Mahasiswa mengacu kepada identitas yang berupa suatu prestasi atau penghargaan. Status keambiguan pada remaja membawa mereka pada pilihan-pilihan sulit dalam