Hayati, Juni 2005, hlm. 57-60 Vol. 12, No. 2
ISSN 0854-8587
Kloning DNA Genom Pengapit Transposon dari Mutan Nonpatogenik
Xanthomonas axonopodis pv. glycines M715
Cloning of Genomic DNA Flanking Transposon in the Nonpathogenic
Mutant of Xanthomonas axonopodis pv. glycines M715
ALINA AKHDIYA RUSMANA
1‡
, ANTONIUS SUWANTO
1*
, BUDI TJAHJONO
2
1
Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144
2
Departemen Hama dan Penyakit Tanaman, Faperta, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680
Diterima 15 Desember 2003/Disetujui 20 Mei 2005
The objective of this work is to clone flanking DNA derived from Tn-5 mutagenesis of wild type strain Xanthomonas
axonopodis pv. glycines as first step to clone and to identify the gene involved in pathogenicity mechanism. We have
localized the flanking DNA fragment from a nonpathogenic mutant of Xag M715. Southern hybridization analysis using
2.8 kb EcoRI from pYR103 as a probe showed that the fragment is located within 2.0 kb PstI fragment. A 0.7 kb flanking
DNA was amplified using inverse PCR technique, and inserted into pGEM-T Easy vector generating a 3.7 kb recombinant
plasmid (pAA01). Southern hybridization analysis of the wild type (YR32) with pAA01 as a probe indicated a hybridization
signal located at approximately 3.0 kb PstI fragment. DNA sequence analysis revealed that the DNA fragment has a 64%
identity to a vir gene of Bacillus anthracis.
___________________________________________________________________________
_________________
‡
Alamat kini: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Jalan Tentara Pelajar
No. 3A, Bogor 16111
*
Penulis untuk korespondensi, Tel./Fax. +62-251-345011,
E-mail: asuwanto@indo.net.id
PENDAHULUAN
Xanthomonas axonopodis pv. glycines (Xag) atau yang
sebelumnya lebih dikenal sebagai X. campestris pv. glycines
merupakan bakteri penyebab penyakit bisul pada tanaman
kedelai (Moffet & Croft 1983). Penyakit ini diperkirakan
terdapat di seluruh wilayah penanaman kedelai di dunia
terutama yang beriklim hangat dan lembab (Kennedy &
Sinclair 1989), termasuk pada area penanaman kedelai di
Indonesia (Machmud et al. 1999). Pada musim hujan penyakit
ini menyebar dengan cepat (Graham 1953), dan bakteri
penyebabnya dapat bertahan hidup pada biji kedelai sampai
2.5 tahun (Patel & Jindal 1972).
Gejala penyakit bisul bakteri pada kedelai umumnya terlihat
pada daun, tetapi kadang-kadang gejala yang mirip juga
muncul pada polong. Daun yang terinfeksi berat akan
menguning dan gugur. Bahkan pada tanaman yang rentan,
infeksi yang berat dapat mengakibatkan defoliasi total
(Dunleavy et al. 1966). Pada akhirnya, infeksi akan
menyebabkan penurunan ukuran dan jumlah polong yang
dihasilkan. Hasil penelitian Shukla (1994) menunjukkan bahwa
pada tingkat infeksi lebih dari 75%, penurunan produksi
kedelai dapat mencapai 53%, oleh karena itu penyakit ini
sangat merugikan.
Adanya tekanan terhadap upaya pengendalian penyakit
tanaman yang bersifat ramah lingkungan menuntut
pemahaman yang baik tentang mekanisme patogenisitas
penyakit serta faktor-faktor ekologi yang berperan dalam
mendorong maupun menekan timbulnya penyakit.
Kemampuan bakteri menimbulkan penyakit pada tanaman
inangnya bergantung pada banyak aspek diantaranya aspek
lingkungan, perkembangan, dan fisiologi inang,
perkembangan dan fisiologi patogen serta ekspresi dari faktor
patogenisitas yang memerlukan koordinasi dari sejumlah besar
fungsi pada bakteri (Sigee 1993; Fenselau et al. 1992).
Dari serangkaian penelitian tentang Xag telah dihasilkan
antara lain peta makrorestriksi genom Xag YR32 (Widjaya et
al. 1999) serta sejumlah transposon mutan dari bakteri tersebut.
Salah satu dari mutan-mutan yang diperoleh adalah Xag M715
(Rukayadi et al. 2000). Mutan tersebut menarik untuk diteliti
lebih lanjut sebagai bahan untuk menelaah mekanisme
patogenitas pada taraf molekuler, karena berdasarkan hasil uji
bioassay pada kotiledon dan tanaman kedelai tidak
menunjukkan gejala bisul maupun klorosis. Di samping itu,
mutan ini juga tidak menimbulkan reaksi hipersensitivitas pada
daun tomat M715 (Rukayadi et al. 2000).
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengklon
dan merunut DNA genom pengapit transposon pada Xag
M715 sebagai tahap awal untuk mengidentifikasi gen yang
terlibat dalam mekanisme patogenisitas Xag. Dari penelitian
ini diharapkan dapat diperoleh suatu hasil yang akan
memberikan manfaat dalam upaya mengungkap mekanisme
patogenisitas X. axonopodis pv. glycines. Tidak menutup
kemungkinan pada suatu saat nanti, dari hasil-hasil penelitian
yang ada dapat dikembangkan teknik-teknik pengendalian
baru seperti teknik deteksi penyakit secara dini dan cepat,
serta pengembangan vaksin tanaman.
Copyright © 2005 Institut Pertanian Bogor. Production and hosting by Elsevier B.V. This is an open access article under the CC BY-NC-ND license
(http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/).