138 ANALISIS PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM KEBERHASILAN PROGRAM COMMUNITY LED TOTAL SANITATION (CLTS) Salis Kurnia Rahmawati, Oedojo Soedirham FKM Universitas Airlangga Abstract: Sidorejo sub village District Senduro and Darung sub village District Randuagung were the targets of CLTS program in Lumajang. The community of Sidorejo sub village was able to change their defecation behavior at any place into latrine, while the community of Darung sub village had not been able to change their behavior yet. The purpose of this research was to study the process of CLTS and the differences of indicators’ applications of the community participation in both sub villages. This research was observational research by using quantitative method. The independent variables were process of CLTS, leadership and community organizing, fnancing and utilizing the latrine. The populations research were all families in Sidorejo and Darung. The samples of this research were 146 families which divided in both sub villages that used simple random sampling method. CLTS is a process to empower the community and to improve the community participation to doing self-help and triggering them to use latrine. The indicator of leadership and organizing in both sub villages were categorized medium. The indicator of society fnancing in Sidorejo sub village was categorized high (34%) while in Darung sub village was categorized as low fnancing (53%). The indicator of utilizing the latrine in Sidorejo was categorized high (100%), while in Darung was categorized low (67%). The conclusion of this study is the success of CLTS program is associated of the quality of triggering process by CLTS community facilitators and the level of community participation. Keywords: CLTS, community participation indicator, use latrine Abstrak: Desa Sidorejo Kecamatan Senduro dan Desa Darung Kecamatan Randuagung menjadi sasaran program CLTS di Lumajang. Masyarakat dusun Sidorejo mampu mengubah perilaku buang air besar sembarangan menjadi buang air besar ke jamban melalui program CLTS, sedangkan masyarakat Dusun Darung sebaliknya, mereka belum mampu mengubah perilaku dari buang air besar sembarangan menjadi perilaku buang air besar ke jamban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari proses CLTS dan perbedaan aplikasi indikator ‘ dari partisipasi masyarakat di kedua dusun. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan metode kuantitatif. Variabel bebas adalah proses CLTS, kepemimpinan dan pengorganisasian masyarakat, pembiayaan dan memanfaatkan jamban. Populasi penelitian adalah semua keluarga di Sidorejo dan Darung. Sampel penelitian ini adalah 146 keluarga yang terbagi di kedua dusun yang menggunakan metode simple random sampling. CLTS adalah proses untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk melakukan self-help dan memicu mereka untuk menggunakan jamban. Indikator kepemimpinan dan pengorganisasian di kedua dusun dikategorikan sedang. Indikator pembiayaan masyarakat di Dusun Sidorejo dikategorikan tinggi (34%) sedangkan di Dusun Darung dikategorikan sebagai pembiayaan yang rendah (53%). Indikator pemanfaatan jamban di Sidorejo dikategorikan tinggi (100%), sedangkan di Darung dikategorikan rendah (67%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah keberhasilan program CLTS terkait kualitas proses memicu oleh fasilitator masyarakat CLTS dan tingkat partisipasi masyarakat. Kata kunci: CLTS, indikator partisipasi masyarakat, penggunaan jamban PENDAHULUAN Kondisi di Indonesia secara umum program sanitasi pada awalnya mengalami stagnasi hasil, banyak proyek sanitasi yang gagal, padahal penyampaian program sanitasi terutama jamban di Indonesia telah lama dilakukan. Keadaan ini disebabkan antara lain karena pembangunan masih berorientasi pada target fsik serta belum berorientasi pada perubahan perilaku di masyarakat. Kepedulian masyarakat terhadap persoalan proyek sanitasi cenderung menurun pada pasca proyek dan kurangnya kebersamaan dalam mengatasi permasalahan sanitasi. Kecenderungan masyarakat terhadap uluran subsidi pemerintah juga masih tinggi. Hal ini memicu untuk melaksanakan program yang lebih baik dari sebelumnya. Program CLTS (Community Led Total Sanitation) yang telah diadopsi menjadi STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) dilakukan melalui pendekatan kepada