JURNAL NASIONAL TEKNOLOGI DAN SISTEM INFORMASI - VOL. 07 NO. 03 (2021) 147-154 Terbit online pada laman : http://teknosi.fti.unand.ac.id/ Jurnal Nasional Teknologi dan Sistem Informasi | ISSN (Print) 2460-3465 | ISSN (Online) 2476-8812 | https://doi.org/10.25077/ TEKNOSI.v7i3.2021.147-154 Attribution-NonCommercial 4.0 International. Some rights reserved Artikel Penelitian Analisis Cluster Penyakit Malaria Provinsi Papua Menggunakan Metode Single Linkage Dan K-Means Alvian Sroyer a , Samuel A. Mandowen b , Felix Reba c* a,c Program Studi Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Cenderawasih, Papua, Indonesia b Program Studi Sistem Informasi, Fakultas MIPA, Universitas Cenderawasih, Papua, Indonesia INFORMASI ARTIKEL ABSTRACT Sejarah Artikel: Diterima Redaksi: 12 Juli 2021 Revisi Akhir: 01 Januri 2022 Diterbitkan Online: 03 Januari 2022 Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasite bernama Plasmodium. Tercatat keseluruhan kasus malaria yang terjadi di Indonesia pada tahun 2019 adalah sebanyak 250.644 kasus. Dan kasus malaria tertinggi terjadi di provinsi Papua, yaitu sebesar 86% atau sebanyak 216.380 kasus. Di Provinsi Papua, penyakit malaria dialami oleh semua usia dan bulan-bulan terjadi peningkatan pasien penderita malaria juga sangat bervariasi. Hal ini mengakibatkan dinas Kesehatan mengalami kesulitan dalam mengelompokan jenis malaria berdasarkan usia pasien dan bulan-bulan kejadian. Sebenarnya sudah ada penelitian yang menjelaskan pengelompokan jenis-jenis malaria, namun belum dijelaskan secara terperinci masing-masing kelompok malaria seperti Malaria Tropika, Malaria Tertiana, Malaria Quartana, Malaria Ovale. Tujuan dari penelitian ini adalah, melakukan analisis cluster terhadap beberapa jenis malaria, usia dan bulan kejadian. Metode cluster yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Single Linkage dan K-Means. Selanjutnya kedua metode akan di evalusi menggunakan standar deviasi. Metode terbaik yang dapat digunakan untuk analisis cluster adalah metode yang memiliki nilai standar deviasi lebih kecil. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Hasil penelitian menunjukan bahwa, metode Single Linkage lebih akurat dibandingkan dengan K-Means. Dimana dari 50 pasien terdapat 47 pasien lebih dominan terkena penyakit malaria tertiana yaitu pada rentang usia remaja dan dewasa pada bulan juni. Sehingga diharapkan pemerintah Provinsi Papua dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya mereka yang pada rentang usia remaja dan dewasa. Karena hampir 94% penyakit malaria tertiana di derita oleh mereka yang berusia remaja dan dewasa. KATA KUNCI Jenis Malaria, Rentang Usia, Bulan Kejadian Single Linkage, K-Means KORESPONDENSI E-mail: felix.reba85@gmail.com* 1. PENDAHULUAN Parasit Plasmodium merupakan penyebab munculnya penyakit malaria. Parasit ini dapat menyebar di dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang disebut Anopheles betina. Jika seseorang digigit oleh nyamuk tersebut dan orang tersebut tidak memiliki kekebalan tubuh, maka gejala yang akan di timbulkan biasanya muncul 10-15 hari setelah gigitan nyamuk. Gejala yang yang biasanya pertama kali muncul adalah : terasa demam, sakit kepala, dan mengigil. Namun gejala ini sangat sulit dikenali sebagai gejala malaria. Apabila gejala ini di alami oleh seseorang dan ditangani dengan pemberian obat dalam waktu 24 jam, penyakit malaria justru akan berkembang menjadi penyakit yang parah, bahkan penyakit malaria seringkali menyebabkan kematian. (who.int). Penyakit malaria dapat ditemukan di seluruh wilayah di Indonesia, namun lebih dominan malaria banyak di temukan di Indonesia Timur. Stratifikasi sedang dapat ditemukan juga di daerah Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Berdasarkan laporan WHO, pada tahun 2008–2009, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua Barat dan Papua adalah Provinsi dengan Annual Parasite Incidence (API) tertinggi di Indonesia. Lebih khusus wilayah Papua, pada tahun 2017 ditemukan lebih dari 100 kasus Plasmodium falciparum yang terkonfirmasi per 1000 penduduk. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, hasil