SOSIOHUMANIKA:
Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, 9(2) November 2016
© 2016 by Minda Masagi Press and UPI Bandung, West Java, Indonesia
ISSN 1979-0112 and www.mindamas-journals.com/index.php/sosiohumanika
213
LELI YULIFAR
Purwakarta: Dari Ibukota Kabupaten Karawang
Menjadi Kabupaten Mandiri
RESUME: Sejarah merupakan proses yang berkesinambungan dengan seluruh dinamikanya, yang memperlihatkan
hubungan kausalitas antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lainnya. Peristiwa demi peristiwa telah membentuk
sebuah struktur dalam sejarah yang ajeg dan tetap. Dalam konteks ini, Kabupaten Purwakarta pernah memiliki
status rangkap ketika menjadi ibukota Kabupaten Karawang, yakni sebagai “Distrik, Onderdistrik, Afdeeling, dan
Kontrole Afdeeling”. Perkembangan demografi, pembangunan infrastruktur, dan perubahan wilayah administratif
menjadikan wilayah Purwakarta sangat dinamis, yang ditandai dengan berdirinya Kabupaten Purwakarta secara
mandiri. Artikel ini mengkaji tentang sejarah Kota Purwakarta, dari sejak awal berdiri pada zaman kolonial Belanda
(1816-1942), zaman pendudukan tentara Jepang (1942-1945), zaman revolusi Indonesia (1945-1950), hingga
perkembangannya terkini. Dengan menggunakan metode historis, yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi,
dan historiografi, artikel ini menunjukan bahwa Purwakarta dibangun dengan pola kota tradisional, yang ditandai
dengan berdirinya Pendopo dan Masjid Agung. Untuk keperluan air, dibangun Situ Buleud, yang ditengahnya
didirikan “babancong”, yakni sebuah bangunan mirip gazebo. Di samping itu, terdapat juga “Bumi Ageung”, yang
menjadi tempat tinggal keluarga Bupati pada saat Pendopo dibangun. Saat ini, tinggalan sejarah tersebut menjadi
kebanggaan masyarakat, sekaligus sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Purwakarta.
KATA KUNCI: Ibukota Kabupaten Karawang; Kabupaten Purwakarta; Pola Kota Tradisional; Perubahan Sosial;
Peninggalan Sejarah.
ABSTRACT: “Purwakarta: From the Capital City of Karawang Regency Becomes Regency Independently”. History
is a continuous process with all its dynamics, showing a causal relationship between an event with other events. The
events have formed a structure in the history of a steady and fixed. In this context, Purwakarta Regency has had double
status as the capital city of Karawang Regency, namely “District, Onderdistrict, Afdeeling, and Kontrole Afdeeling”.
The developments of demography and infrastructure, and also changes of administrative region make this Purwakarta
region highly dynamic. It is signed by the establishment of Purwakarta Regency independently. This article examines
the history of the city of Purwakarta, from the beginning up to the Dutch colonial era (1816-1942), the time of Japanese
occupation (1942-1945), the time of the Indonesian revolution (1945-1950), up to the latest development. By using
the historical method, which consists of heuristics, criticism, interpretation, and historiography, this article shows that
Purwakarta was built by traditional city pattern, signed by the establishment of “Pendopo” (Regent Palace) and Grand
Mosque. Water requirements fulfilled by the establishment of “Situ Buleud” (Oval Lake), where in the middle of it was
built “babancong”, a building like gazebo. Near to “Situ Buleud”, there is “Bumi Ageung” (Big House), where the
Regent family live when the time of “Pendopo” was being built. For the moment, those historical heritages become a
local pride as well as the administrative center of Purwakarta Regency.
KEY WORD: Capital City of Karawang Regency, Purwakarta Regency; Traditional City Pattern; Social Change;
Historical Heritages.
About the Author: Dr. Leli Yulifar adalah Dosen Senior di Departemen Pendidikan Sejarah FPIPS UPI (Fakultas Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendikan Indonesia), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154, Jawa Barat, Indonesia.
Untuk kepentingan akademis, penulis bisa dihubungi dengan alamat emel: leli_yulifar@upi.edu dan lely_yulifar@yahoo.com
How to cite this article? Yulifar, Leli. (2016). “Purwakarta: Dari Ibukota Kabupaten Karawang Menjadi Kabupaten Mandiri”
in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.9(2) November, pp.213-220. Bandung, Indonesia: Minda
Masagi Press and UPI Bandung, ISSN 1979-0112.
Chronicle of the article: Accepted (October 9, 2016); Revised (November 10, 2016); and Published (November 30, 2016).