EM PATHY, Jurnal Fakultas Psikologi Vol. 3, No 1, Juli 2015 ISSN : 2303-114X 23 REGULASI EMOSI PADA PENDERITA HIV/AIDS Mekar Duwi Indah Sari, Elli Nur Hayati Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan dwiashari572@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui regulasi emosi penderita HIV/AIDS dan faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi emosi pada penderita HIV/AIDS. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi kepada subjek penderita HIV/AIDS. Subjek penelitian terdiri dari dua orang penderita HIV/AIDS dengan dua orang significant person. Hasil penelitian menunjukkan regulasi emosi dilakukan oleh kedua subjek untuk mengatur respon emosi dari permasalahan yang muncul setelah kedua subjek terinfeksi HIV/AIDS. Subjek pertama yang merupakan seorang wanita yang telah menikah, menggunakan strategi regulasi emosi antecendent-focussed strategy (cognitive reapraissal). Melalui proses regulasi emosi yang terdiri dari situation selection, situation modification, attention deployment, cognitive change, dan modulation respon. Faktor yang mempengaruhi penggunaan regulasi emosi subjek pertama yakni harapan akan masa depan anak, keterbukaan (self disclosure) dan dukungan sosial (sosial support). Subjek kedua yang merupakan pria yang belum menikah, meregulasi emosi dengan menggunakan strategi regulasi emosi respon focused strategy (expression suppression) melalui proses regulasi emosi situation selection. Penggunaan strategi regulasi emosi ini dipengaruhi faktor ketidakmampuan membuka diri dan dukungan sosial (sosial support). Kesimpulan dari penelitian ini adalah kedua subjek meregulasi emosi dengan pemilihan strategi regulasi emosi yang berbeda. Faktor yang paling mempengaruhi penggunaan regulasi emosi penderita HIV/AIDS adalah dukungan sosial (sosial Support). Kata Kunci Pengidap HIV/AIDS, Regulasi emosi PENDAHULUAN AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh. AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker. HIV atau Human Immunodeficiency Virus sendiri adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain (www.aidsindonesia.or.id , 2014). Pasien AIDS memiliki tiga tantangan utama yaitu menghadapi reaksi terhadap penyakit yang memiliki stigma, berhadapan dengan kemungkinan waktu kehidupan yang terbatas, dan mengembangkan strategi untuk mempertahankan kesehatan fisik dan emosi. Namun, kebanyakan penderita HIV/AIDS dapat bertahan dengan baik menghadapi penyakitnya. Mereka yang terinfeksi AIDS harus bertahan dari ketakutan akan prasangaka dari masyarakat umum, terutama jika mereka gay atau pengguna narkoba jarum suntik. Banyak orang yang menyalahkan korban HIV/AIDS, masyarakat juga seringkali bersikap irasional takut tertular oleh penyakit ini meskipun mereka tidak memiliki kontak langsung brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Empathy : Jurnal Fakultas Psikologi