Jurnal Photon Vol. 3 No. 2, Mei 2013 FMIPA-UMRI 39 ISOLASI JAMUR PENYEBAB INFEKSI KULIT DAN UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DAN LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata K.Schum) Musyirna Rahmah Nst, Emma Susanti dan Sumiati Rahman Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau Pekanbaru ABSTRAK Telah dilakukan isolasi jamur penyebab penyakit panu, kurap dan bisul dengan teknik gores.Terdapat 5 isolat jamur diantaranya yaitu 1 isolat pada sampel panu, 2 isolat pada sampel kurap dan 2 isolat pada sampel bisul dengan ciri mempunyai hifa, spora dan spora yang berkelompok. Ke-5 isolat digunakan dalam pengujian aktivitas antijamur ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum L.) dan lengkuas merah(Alpinia purpurata K.Schum) dengan variasi konsentrasi 1%, 2%, 4%, 8%, 16%, 32% dan 64%. Aktivitas antimikroba dikategorikan mempunyai aktivitas sedang dengan diameter hambat 10-19 (mm). Analisa ANOVA dua arah memperlihatkan aktivitas antimikroba berbeda secara signifikan antara ekstrak lengkuas merah dan bawang putih terhadap bakteri panu, kurap dan bisul dengan P<0,05 pada konsentrasi 8%-64%. Kata kunci: isolasi, antijamur, bawang putih, lengkuas merah 1. PENDAHULUAN Saat ini penyakit infeksi menjadi masalah yang serius, ditambah lagi dengan semakin meluasnya resistensi mikroba terhadap obat- obatan yang ada. Hal tersebut mendorong pentingnya penggalian sumber obat-obatan antimikroba lain dari bahan alam. Tanaman obat diketahui potensial untuk dikembangkan lebih lanjut pada pengobatan penyakit(Hertiani dkk, 2003). Kulit merupakan salah satu panca indera manusia yang terletak dipermukaan tubuh sehingga kulit merupakan organ pertama yang terkena pengaruh tidak menguntungkan dari lingkungan dan kulit juga cenderung mengandung mikroorganisme sementara. Gangguan kulit yang dapat meningkat menjadi penyakit kulit akan sangat mengganggu bagi seseorang. Oleh sebab itu, gangguan dan penyakit kulit tersebut harus segera diobati. Untuk mengobati berbagai gangguan dan penyakit kulit tersebut dapat dilakukan dengan membuat ramuan tradisional dari bahan-bahan yang mudah ditemukan. (Santosa et al, 2004 dan Jawetz, et al, 1996). Tumbuh–tumbuhan mengandung berbagai macam jenis metabolit sekunder yang diantaranya berkhasiat sebagai obat. Senyawa- senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tumbuhan tersebut, diantaranya seperti senyawa flavonoid, alkaloid, terpenoid, steroid, saponin dan fenolik (Herbert, 1995). Hasil metabolit sekunder dari tumbuhan itu sendiri penyebaran dan jumlahnya dalam tiap bagian tumbuhan tidak sama. Adapun bagian yang digunakan antara lain; daun, akar, rimpang, biji, kulit batang, ranting, buah dan bunga (Harborne, 1987). Diantara tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah bawangputih dan lengkuas merah. Bawang putih mengandung senyawa allicin. Allicin memiliki banyak manfaat terutama dalam pengobatan penyakit kulit seperti panu, kudis, kurap, bisul, borok dan eksim (Soewito, 1989 dan Wibisana, 1991). Berdasarkan penelusuran literatur pada bawang putih dengan konsentrasi 1% memberikan zona hambat rata- rata 6,39 mm terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans (Kustanto, 2003). Dan ekstrak bawang putih pada konsentrasi 5% dapat menghambatpertumbuhan bakteri Salmonella typhimurium yang setara dengan tetrasiklin 100 μg/ml (Suharti, S, 2004), Lengkuas merah lebih dikenal sebagai tanaman obat, salah satu pemanfaatannya untuk menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri