JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5, No.2, (2016) 2337-3520 (2301-928X Print) 120 Abstrak— Semenjak era Moderenisme, mesin mulai perlahan mengganti peran manusia dalam berbagai aspek kehidupan, yang kemudian secara keseluruhan menggelembungkan skala urban fabric yang mereka bangun. Akibatnya, aktivitas sosial tertentu hanya dapat terjadi dalam sebuah lingkungan tertutup dengan kondisi yang dibuat nyaman. Jakarta merupakan salah satu metropolitan yang mengalami fenomena tersebut, terindikasi dengan adanya pencabangan supergrid. Akibatnya, seluruh urban fabric yang seharusnya dapat saling menyokong satu sama lain ini terfragmen dan tidak terstruktur dengan baik, sehingga sebuah intervensi dibutuhkan untuk menyatukannya. Tingginya diversitas kebutuhan dari fragmen yang ada memiliki faktor interaksi sosial sebagai penyatu dan merupakan hal utama yang patut diselesaikan. Pendekatan perilaku sosial kemudian diimplementasikan, dengan memperhatikan berbagai spektrum aktivitas eksisting maupun laten di area studi, serta faktor kemampuan jangkau indera manusia terhadap ruang urban. Hasil rancangan menggambarkan bahwa sebuah komponen urban fabric, seminim apapun, selayaknya memiliki sifat sugestif dan kelenturan sehingga pengguna memiliki berbagai kemungkinan pengalaman dalam menggunakannya. Kata Kunci— Jakarta, kota, skala, supergrid, urban fabric. I. PENDAHULUAN STILAH homo economicus merupakan istilah teori ekonomi dimana manusia digambarkan sebagai makhluk yang selalu rasional dan selalu berusaha untuk memaksimalkan utilitas ketika ia berperan sebagai konsumen, dan memaksimalkan profit ketika ia berperan sebagai produsen [1]. Saat ini, hampir tidak ada hal yang tidak bisa diukur nilai moneternya. Berevolusi dari pemburu pengumpul, manusia mulai mengenal kapitalisme sejak mengadopsi sistem agraris [2][3]. Ekonomi terus tumbuh pesat, hingga revolusi industri kemudian memulai borjuisme, dimana masyarakat di Barat ketika itu mulai meninggalkan kehidupan rural untuk tinggal dan bekerja di perkotaan [4]. Komputer, televisi, kendaraan bermotor, seakan menjadi sebuah bagian dari kehidupan manusia yang tak lagi dapat dipisahkan. Kemajuan teknologi dilihat sebagai sesuatu yang menggairahkan, dimana arsitek, pengambil kebijakan, dan perencana urban ketika itu ikut mecoba mendukungnya dengan mengaransemen urban fabric menjadi sesuai dengan bagaimana mesin-mesin ini dapat digunakan. Proposal Harvey Wiley Corbett di tahun 1923 untuk New York City merupakan salah satu contohnya. Pemikirannya yakni dengan memindahkan manusia ke level atas dengan akses yang tidak sebebas ketika di level bawah yang diperuntukkan untuk kendaraan dan parkir. Tidak sedikitpun para teoretikus ketika itu berkeinginan untuk membebaskan New York dari kongesti; ambisi Corbett sesungguhnya yakni untuk meningkatkannya hingga intensitas sedemikian tinggi sehingga menciptakan – sebagaimana dalam lompatan kuantum – sebuah kondisi baru, dimana kongesti secara misterius menjadi positif [5]. Moderenisme mereduksi arsitektur hingga titik paling efisien. Manusia kehilangan kotanya, karena mereka esensinya tidak pernah berkehidupan di tengahnya, melainkan di dalam bangunan-bangunannya. Hegemoni mesin dalam kehidupan manusia, dapat dikatakan, menyebabkan terjadinya penggelembungan urban fabric, hingga memutuskan manusia urban dengan habitatnya [6]. Hal yang perlu diperhatikan akibat terjadinya penggelembungan urban fabric adalah menurunnya vitalitas area urban. Menurut Kevin Lynch, vitalitas dapat diartikan sebagai seberapa jauh wujud tempat-tempat yang ada dalam mendukung fungsi, kebutuhan biologis, serta kemampuan- kemampuan yang dimiliki manusia. Dalam lingkup urban, vitalitas sangat dibutuhkan untuk mengurangi tingkat kejahatan, menghidupkan perdagangan, mendorong terjadinya aktivitas sosial, serta memungkinkan terjadinya pertukaran budaya. [7] A. Karakter Urban Fabric yang Baik Sebuah urban fabric dapat dikatakan baik ketika ia memenuhi beberapa karakter. Pertama, ia dapat menaungi tiga jenis aktivitas manusia, yakni aktivitas primer, aktivitas opsional, dan aktivitas sosial. [8] Poin kedua dalam pemenuhan kriteria sebuah urban fabric yang baik adalah ketika ia dapat memenuhi kriteria jangkauan persepsi manusia. [8][9] B. Jakarta sebagai Konteks Pencabangan supergrid pada logika spasial kota dapat dilihat sebagai salah satu gejala terjadinya penggelembungan Sintesis Logika Spasial Kota dan Skala Manusia dalam Merancang Komponen Urban Fabric Kadek Ary Wicaksana dan Endy Yudho Prasetyo Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perancangan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: endy_yudho_prasetyo@arch.its.ac.id I brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Publikasi Ilmiah Online Mahasiswa ITS (POMITS)