PROSIDING TEMU ILMIAH X IKATAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN INDONESIA Peran Psikologi Perkembangan dalam Penumbuhan Humanitas pada Era Digital 22-24 Agustus 2017, Hotel Grasia, Semarang 270 ISBN: 978-602-1145-49-4 Coping stress dan kecemasan pada orang-orang pengidap hiv/aids yang menjalani tes darah dan VCT (Voluntary Counseling Testing) Erna Agustina Yudiati 1 dan Esthi Rahayu 2 1,2 Fakultas Psikologi UNIKA Soegijapranata Semarang 1) yudiatierna@yahoo.com, 2) esthirahayu@yahoo.com Abstract. Permasalahan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Virus) berkembang dengan cepat dan menjadi sebuah ancaman kesehatan dunia yang utama. Salah satu layanan terhadap pemberian informasi seputar HIV/AIDS adalah melalui VCT (Voluntary Counseling Testing). Adanya diskriminasi terhadap HIV/AIDS ini membuat keikutsertaan seseorang mengikuti VCT (Voluntary Counseling Testing) atau tes konseling sukarela bagi seseorang yang ingin mengetahui status HIV nya mungkin rendah akibat takut mendapat diskriminasi. Bagi seseorang yang akan menjalankan tes, muncul berbagai reaksi emosi seperti cemas dan takut, terutama ketika mengetahui hasil yang diperoleh positif.. Kemampuan seorang individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan stressor yang dialaminya itulah yang disebut dengan coping stress. Hipotesis penelitian adalah ada hubungan yang negatif antara coping stres dengan kecemasan. Artinya semakin baik coping stres maka semakin rendah kecemasan dan sebaliknya. Teknik analisa data yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisa kuantitatif non parametrik: Spearman’s rho. Hasilnya adalah ada hubungan yang negatif antara coping stres dengan kecemasan Kata kunci: coping stres, Acquired Immuno Deficiency Virus Pendahuluan Permasalahan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Virus) berkembang dengan cepat dan menjadi sebuah ancaman kesehatan dunia yang utama. Ada 2,7 juta orang di dunia yang didiagnosa oleh William Fisher menderita AIDS, sementara itu 12,9 juta lainnya terinfeksi oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) (Mann, Tarantola dan Netter, 1992) sebagai patogen yang menyebabkan AIDS. Kaum lesbian yang melakukan hubungan seks dengan sesama wanita lebih aman dibanding melakukan dengan pria. Berhubungan seks dengan sesama wanita lebih aman karena tidak terjadi intercourse. Lesbian yang melakukan hubungan seks dengan sesama wanita dapat terinfeksi melalui oral lewat vagina dan darah menstruasi. Para lesbian tersebut kadang-kadang menggunakan drug dan berhubungan seks dengan pria (Berer, 1993). Banyak dari para kelompok resiko tinggi tersebut yang belum tahu tentang penularan atau bahaya penyakit HIV/AIDS. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN) pada tahun 1992 (dalam Ruddick, 1995) menunjukkan bahwa banyak orang tidak sadar tentang masa inkubasi yang panjang antara saat terinfeksi HIV dan timbulnya gejala AIDS. Sedikit orang yang mengetahui cara pencegahan penularan HIV. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan terutama dari segi penyebaran HIV/AIDS, sehingga perilaku dalam mencari bantuan masih kurang. Permasalahan-permasalahan yang terkait dengan HIV/AIDS adalah masalah yang serius di seluruh dunia, karena jumlah penderitanya sendiri akan terus mengalami kenaikan. Jumlah kumulatif kasus AIDS di Indonesia telah mencapai angka 8988 kasus, di Jawa Tengah sendiri mencapai 318 kasus (sumber: Ditjen PPM dan PL Depkes RI, April 2007), sedangkan