PENERAPAN PROGRAM SYSTEM BLOCK MASTERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR RENANG GAYA DADA
Fika Nuraini Rusmitaningsih
1
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI)
Vol. 5, No. 2, Mei - Agustus 2020
ISSN 2477-2240 (Media Cetak).
2477-3921 (Media Online)
PENERAPAN PROGRAM SYSTEM BLOCK MASTERY LEARNING
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR RENANG GAYA DADA
Fika Nuraini Rusmitaningsih
SMK Negeri 3 Tegal, Jawa Tengah
Abstrak
Pembelajaran renang gaya dada dengan tatap muka tiga kali dalam satu semester membuat
pembelajaran tidak efektif. Banyak peserta didik yang tidak tuntas dan terjadi banyak kesalahan
gerak. Kesalahan gerak ini terjadi pada proses belajar gerak yang kurang diperhatikan dengan baik
sehingga produk gerak yang dihasilkan zero transfer (pengalaman belajar gerak tidak berpengaruh).
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan hasil belajar renang gaya dada. Rancangan
penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan dua siklus dan setiap siklus
menggunakan empat tahapan yaitu; perencanaan, pelaksaan, observasi, refleksi. Subyek penelitian
ini adalah peserta didik kelas XI TKR 1 SMK Negeri 3 Tegal. Teknik pengumpulan data
menggunakan observasi (non tes) dan tes. Hasil penelitian pada data nontes siklus I indikator daya
tahan peserta didik 44,45 % cukup kompeten dan 22,22% kompeten, sedangkan pada siklus II data
indikator daya tahan siswa meningkat menjadi 76,48% sangat kompeten dan 14,70 % peserta didik
kompeten . Hasil ini berpengaruh pada hasil belajar peserta didik pada penilaian keterampilan
renang gaya dada 50 meter. Daya tahan yang belum terbentuk pada siklus I membuat hasil belajar
peserta didik rendah yaitu hanya 44,12% saja yang tuntas. Sedangkan pada siklus II daya tahan
yang telah meningkat sehingga membuat hasil belajar juga meningkat yaitu 91,18% peserta didik
yang di atas KKM.
© 2020 Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia
Kata Kunci: hasil belajar; mastery learning; renang gaya dada; system block.
PENDAHULUAN
Pada pembelajaran aktivitas air renang gaya dada sering terjadi guru kurang memperhatikan
kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Jika peserta didik harus belajar renang, mereka belajar
keterampilan renang secara langsung bahkan hanya langsung penilaian tanpa adanya proses latihan
yang teratur dan terencana. Teknik-teknik dasar dalam pelajaran demikian lebih ditekankan,
sementara tahapan penyajian tugas gerak yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik kurang
diperhatikan.
Gabbard, LeBlanc, dan Lowy (1987) mengutarakan tahapan gerak khusus atau khas yang
dimiliki pada tahapan kerja motorik usia 12 tahun sampai dengan dewasa adalah aktivitas
karakteristik penghalusan keterampilan dan penyadaran gerak, menggunakan gerak dasar, dalam tari,
permainan/olahraga, senam dan olahraga air. Merujuk pada Gabbard, LeBlanc, dan Lowy diatas
bahwa peserta didik usia SMK (dewasa) memiliki tahapan kerja motorik khusus/khas sehingga
pendidikan jasmani perlu proses yang terencana dan bertahap yang perlu dibina secara hati-hati dalam
waktu yang diperhitungkan. Bila orientasi pelajaran pendidikan jasmani adalah agar peserta didik
menguasai keterampilan berolahraga, misalnya aktivitas air renang gaya dada, maka guru akan lebih
menekankan pada pembelajaran teknik dasar renang gaya dada dengan program latihan yang tersusun
dan terencana dan dengan kriteria atau indikator penilaian yang sudah ditentukan.