Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 6 (4) 2017
©Indonesian Food Technologists http://dx.doi.org/10.17728/jatp.266
161
Catatan Penelitian
Mikroskopi dan Sifat Organoleptic Kue Kering Fungsional dari Pati Garut
(Maranta arundinaceae L.) Termodifikasi
Microscopy and Organoleptic Properties of Functional Pastries form Modified Arrowroot Starch (Maranta
arundinaceae L.)
Damat, Anas Tain*, Hany Handjani, Uswatun Khasanah
Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang
*Korespondensi dengan penulis (damatumm@gmail.com)
Artikel ini dikirim pada tanggal 19 Desember 2016 dan dinyatakan diterima tanggal 21 Januari 2017. Artikel ini juga dipublikasi secara online
melalui www.jatp.ift.or.id. Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang diperbanyak untuk tujuan komersial.
Diproduksi oleh Indonesian Food Technologists® ©2017
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik secara mikroskopi dan sifat organoleptik kue kering
fungsional dari pati garut secara gelatinisasi-retrogradasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap
Sederhana (RAL). Perlakuan yang diberikan adalah proporsi pati garut termodifikasi (0%, 25%, 50%, 75%, dan
100%, masing-masing sebagai K1, K2, K3, K4, K5). Analisis produk meliputi analisis terhadap ukuran granula, tekstur
(hardness), bentuk dan sifat organoleptik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa substitusi pati garut termodifikasi
berpengaruh sangat nyata terhadap sifat fisik, organoleptik kue kering yang dihasilkan. Bentuk granula pati garut
adalah bulat dan permukaan yang halus, sedangkan bentuk granula pati garut termodifikasi adalah tidak beraturan
dan permukaan yang kasar. Granula pati garut memiliki ukuran 9,35-35,6 μm, sedangkan granula pati garut
termodifikasi memiliki ukuran 193-439 μm. Bentuk granula kue kering juga tidak beraturan dengan ukuran sekitar
175-649 μm. Berdasarkan sifat fisik, kue kering yang sesuai adalah perlakuan K3, hardness 9,72 N (lunak),
perlakuan K5. Berdasarkan uji sifat organoleptik diketahui bahwa kue kering perlakuan K3 memiliki, warna 2,65
(menarik), aroma 2,80 (gurih), dan tekstur 1,70 (lunak). Kesimpulannya, substitusi pati garut termodifikasi sangat
mempengaruhi sifat fisik, organoleptik kue kering fungsional.
Kata Kunci: pati garut termodifikasi, kue kering
Abstract
This research was done to analyse the microscopic characteristic and organoleptic of pastries from modified
arrowroot starch. This study was conducted using a completely randomized design (RAL). The treatments were the
proportion of modified arrowroot starch (0%, 25%, 50%, 75% and 100%, as K1, K2, K3, K4, K5). Product analysis
included an analysis of granule size, texture, shape and organoleptic properties. The results of this study showed
that the substitution of modified arrowroot starch very significant effect on the physical properties, organoleptic
pastries produced. Arrowroot starch granule shape is round and smooth surface, while the shape of modified
arrowroot starch granules are irregular and rough surfaces. Arrowroot starch granules have a size of 9.35 to 35.6
μm, whereas the modified arrowroot starch granules have a size of 193-439 lm. Granulated pastries are also irregular
with a size of about 175-649 lm. Based on physical properties, pastries suite is K3 treatment, 9.72 N hardness (soft),
treatment K5. Based on the test known that the organoleptic properties of pastries treatment K3 has a color of 2.65
(draw), aroma 2.80 (savory), and 1.70 texture (soft). As conclusion, substitution of modified arrowroot starch might
highly affected to physical characteristic pastries and its organoleptic quality.
Keywords: modified arrowroot starch, pastries
Pendahuluan
Pangan merupakan salah satu kebutuhan primer
manusia. Kebutuhan pangan akan terus meningkat baik
kuantitas maupun kualitasnya. Salah satu bahan pangan
di Indonesia adalah tepung terigu. Menurut Prihtiyani
(2013), konsumsi tepung terigu pada tahun 2013
diperkirakan mencapai 5,43 juta ton, meningkat 7 persen
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan
ini dipicu oleh peningkatan permintaan, khususnya dari
industri pangan. Guna mengurangi angka tersebut,
maka diperlukan bahan pangan lokal sebagai alternatif
untuk mengurangi laju konsumsi tepung terigu. Salah
satu jenis bahan pangan lokal yang potensial untuk
dikembangkan adalah ubi garut.
Ubi garut merupakan jenis tanaman yang dapat
tumbuh dengan baik di sebagian besar wilayah di
Indonesia. Menurut Djaafar (2010), produktivitas ubi ini
cukup tinggi, rata-rata mencapai 20 ton/ha. Ubi garut
mengandung karbohidrat sebesar 83,4 persen. Selain
itu, ubi garut juga mengandung komponen makro dan
mikro seperti protein, mineral, air, lemak, dan serat
(Rukmana, 2004). Pengolahan ubi garut menjadi pati
garut relatif mudah dilakukan. Berdasarkan karakteristik
tersebut, maka garut dapat dimanfaatkan sebagai salah
sumber pangan alternatif pengganti tepung terigu.
Pati garut, sebagaimana jenis pati alami lainnya
diketahui memiliki kelemahan sifat fisik dan kimia yang
menyebabkan penggunaan pati garut pada industri
pangan relatif terbatas (Damat et al., 2008). Karena itu
maka perlu dilakukan perbaikan sifat fisik dan kimianya
dengan cara melakukan modifikasi pati garut. Proses
modifikasi tersebut, selain dapat memperbaiki sifat fisik
dan kimia, diharapkan juga dapat memberikan efek yang
menyehatkan pagi tubuh. Salah satu metode modifikasi