186 Vol. 2 No. 4, September 2020 e-ISSN: 2656-8330 KAMPANYE KOMUNIKASI JARINGAN KERJA PENYELAMAT HUTAN RIAU DALAM PENYELAMATAN HUTAN RIAU PASCA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN 1 Reno Nanda Pratama, 2 Atjih Sukaesih 1,2 Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Email: rhynoplays9111@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kampanye yang dilakukan oleh Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (JIKALAHARI) untuk melakukan penyelamatan hutan beserta segala komponennya pasca kebakaran hutan dan lahan tahun 2015. Teori yang penulis gunakan adalah teori kampanye model Leon Ostergaard yang mempunyai 3 tahapan untuk mendapatkan hasil kampanye, yakni. Pra kampanye, (identification of problem), kampanye (campaign content, public segmentation), pasca kampanye (evaluated), untuk mencari hasil yang mempengaruhi knowledge, attitudes, skills dan behavior. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dokumentasi serta observasi partisipasi total. Hasil penelitian adalah jikalahari menggunakan analisis politik, fakta lapangan dalam menjalankan kampanye penyelamatan hutan. Aksi konfrontasi pada pihak berwenang dilakukan secara langsung jika tuntutan tidak dihiraukan. Kata kunci: Jikalahari, Kampanye, Kebakaran Hutan dan Lahan Pendahuluan Provinsi Riau mempunyai luas wilayah kurang lebih 8,7 juta hektar. Dimana 7,1 hektar berupa hutan dan 3,9 hektarnya adalah lahan gambut. Melalui pantauan citra satelit Landsat 8, pada tahun 2015 lalu tutupan hutan tersisa sekira 1,644,862,00 Ha. Massifnya angka deforestasi di Riau dikarenakan beberapa faktor, seperti pembalakan liar, pembukaan lahan oleh korporasi dalam skala luas, serta kebakaran. Terbakarnya hutan dan lahan di Riau telah menjadi agenda tahunan, setiap tahun kebakaran hutan dan lahan selalu terjadi. Kabut asap adalah dampak paling nyata yang menjadi sorotan dunia internasional. Puncak terburuk kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau terjadi pada tahun 2015. Korporasi yang datang membawa dua jenis tumbuhan, yaitu akasia (untuk kebutuhan bubur kertas) dan sawit (untuk kebutuhan CPO). Penanaman tumbuhan ini diprakarsai oleh dua korporasi raksasa yaitu RAPP yang merupakan bagian dari APRIL Group dan IKPP yang merupakan bagian dari Sinar Mas Group. Pada kebakaran tahun 2015 di Provinsi Riau terdapat lebih dari 97.139 warga korban polusi kabut asap yang menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), 81.514 orang menderita pneumonia, 1.305 orang menderita asma 3.744 orang menderita iritasi mata dan iritasi kulit 5.899 orang. Bandara tutup hampir dua bulan, sekolah libur serta warga mengungsi. Saat dilakukan penyelidikan kasus kebakaran hutan dan lahan, Presiden Joko Widodo menginstruksikan penegakan hukum tidak hanya menyasar rakyat biasa tapi perusahaan yang terlibat pembakaran juga harus ditindak secara tegas. Para menteri diperintahkan bertindak tegas dan tidak ragu melakukan peninjauan dan pencabutan izin konsesi bagi perusahaan pembakar lahan. Pada 2015, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencabut tiga izin perusahaan, 16 perusahaan dibekukan izin dan sanksi administrasi empat perusahaan. Sementara 14 perusahaan lainnya dalam tahap penyusunan sanksi administrasi, pengawasan 19