JOM Fekon Vol. 1 No. 2 Oktober 2014 Page 1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEI Periode Tahun 2008-2011) By: Dani Rahman Raja Dr. Hj. Rita Anugerah, MAFIS, Ak., CA Pipin Kurnia, SE, M.Ak., Ak., CA Faculty of Economic Riau University, Pekanbaru, Indonesia e-mail: danirahmanraja@yahoo.com Factors Affecting Earnings Management (Empirical Studies on Companies Listed on The Stock Exchange in The Period 2008-2011) ABSTRACT Earnings management is defined as a managerial discretionary practice of timing strategic and operating decisions (e.g., accelerating sales, postponing research and development) or choosing accrual estimates (excessive reserves) to manage short-term earnings. Earnings management is made possible and is often legitimately accomplished within the flexibility of GAAP rather than through noncompliance with GAAP. Earnings management with the purpose of creating misleading financial information or misrepresenting financial performance can constitute fraud. This study aimed to assess the effect of institutional ownership, independent board, percentage of public shares, audit committee, and leverage on earnings management. The population in this research that companies listed on the indonesia stock exchange (BEI) period 2008-2011. Sampling was purposive sampling method. Data collection method is a method of documentation. Hypothesis testing using linear regression analysis. Keywords : institutional ownership, independent board, percentage of public shares, audit committee, leverage, and earnings management. PENDAHULUAN Manajemen laba (earnings management) merupakan masalah agensi yang sering terjadi di lingkungan bisnis. Perilaku manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen berawal dari konflik keagenan yaitu konflik kepentingan antara pemilik (principal) dan manajemen (agent). Principal berkepentingan memperoleh profitabilitas yang selalu meningkat sehingga dapat tercapai tingkat pengembalian saham yang maksimal. Agent berkepentingan memperoleh kompensasi kontrak yang maksimal agar tercapai kemakmurannya. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan. Masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki. Hal ini akan mendorong agent untuk melakukan manajemen laba. Terjadinya manajemen laba merupakan salah satu dampak dari pengawasan atau monitoring yang lemah sehingga memberi kesempatan kepada agent atau manajer untuk berperilaku menyimpang dengan melakukan manajemen laba (Andayani, 2010). Perilaku manajemen laba selalu diasosiasikan dengan perilaku yang negatif karena manajemen laba menyebabkan tampilan informasi keuangan tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya (Putra, 2009). Informasi laba merupakan perhatian utama untuk menaksir kinerja atau pertanggungjawaban manajemen. Dalam praktiknya, manajemen laba adalah tindakan memanipulasi akuntansi dengan tujuan menciptakan kinerja perusahaan agar terkesan lebih baik dari yang sebenarnya (Mulford, 2010:81). Manajemen laba diduga muncul atau dilakukan oleh manajer atau para pembuat laporan keuangan dalam proses pelaporan keuangan suatu organisasi karena mereka mengharapkan suatu manfaat dari tindakan yang dilakukan. Meskipun secara prinsip, praktek manajemen laba ini tidak menyalahi prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum, namun adanya praktek manajemen laba dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap laporan keuangan eksternal dan menghalangi kompetensi aliran modal di pasar modal (Antonia, 2008). Praktek ini juga dapat menurunkan kualitas laporan keuangan suatu perusahaan (Antonia, 2008). Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya manajemen laba diantaranya kepemilikan institusional (Tiswiyanti, 2012), dewan komisaris independen (Tiswiyanti, 2012), persentase saham publik (Azlina, 2010), komite audit (Palestin, 2008), dan leverage (Antonia, 2008). Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham oleh pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dana perwalian dan