JURNAL ANTROPOLOGI: ISU-ISU SOSIAL BUDAYA - VOL. 24 NO. 01 (JUNE 2022) Available online at : http://jurnalantropologi.fisip.unand.ac.id/ Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya | ISSN (Online) 2355-5963 | 90 | Page https://doi.org/10.25077/jantro.v24.n1.p90-99.2022 Attribution-NonCommercial 4.0 International. Some rights reserved BUDAYA, GENDER, DAN KASUS KEKERASAN PADA PEREMPUAN DI JAWA BARAT Yulianingsih 1 * , Erna Herawati 2 1 2 Department of Anthropology, FISIP, Universitas Padjadjaran, Bandung, West Java. ARTICLE INFORMATION ABSTRACT Submitted : 28 th November, 2021 Review : 23 th March, 2022 Accepted : 18 th April, 2022 Published : 05 th June, 2022 Available Online : June 2022. People in West Java uphold harmony and peace as an important part of their worldview. Yet, violence against women continues to occur, including in rural areas. This qualitative research using a case study design was conducted to explore and describe the cases of violence against women and the factors contributing to the case in Desa Selaras, a small village in rural West Java. The data were collected through observation and in-depth interviews with female violence survivors and NGO activists who assist them; as well as archival and literature studies. The findings of this research suggest the various types of violence against women, such as psychological violence (polygamy), physical violence (persecution), economic violence (economic exploitation and financial neglect), and sexual violence. Among the factors contributing to the violence in the village were gender inequality, financial problems, lack of knowledge and passive attitudes towards violence among the survivors, cultural values about women, lack of communication in the family, and male personality. KEYWORDS Violence against women; gender; gender inequality; culture; Sundanese. CORRESPONDENCE * E-mail: yulianingsih2121@gmail.com A. PENDAHULUAN ekerasan pada perempuan adalah tindakan kekerasan yang menyebabkan penderitaan bagi perempuan. Kekerasan dapat berupa kekerasan secara fisik, seksual, psikologis, bahkan ekonomi (Purba, 2011; Nurdjunaida, 2006 dalam Purnaningsiwi et al., 2014). Penyebab kekerasan pada perempuan secara umum, menurut beberapa penelitian, antara lain budaya patriarki (Dafeni et al., 2017; Obie, 2018; You, 2019), dan faktor ekonomi (Dafeni et al., 2017; Obie, 2018; Sujadmi, 2017). Faktor lain yang juga menjadi penyebabnya adalah budaya mengonsumsi minuman keras dan poligami (Obie, 2018), dan pernikahan dini (yang menyebabkan pasangan suami dan istri berada dalam kondisi mental dan ekonomi yang belum stabil dalam menjalankan rumah tangga) (Dafeni et al., 2017; Sujadmi, 2017). Di Provinsi Jawa Barat, jumlah kasus kekerasan pada perempuan cukup tinggi. Bahkan, pada 2019, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan lembaga pengada layanan mencatat jumlah kasus kekerasan pada perempuan di Jawa Barat mencapai 2.738 kasus. Jumlah ini menyumbang 18% dari seluruh jumlah kasus kekerasan pada perempuan di Indonesia (Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, 2020). Fenomena kekerasan pada perempuan di Jawa Barat menarik untuk ditelusuri karena bertolak belakang dengan falsafah hidup etnis Sunda, etnis mayoritas di Jawa Barat, yang sangat menjunjung tinggi harmoni dan kesetaraan gender. Di Sunda, masyarakat memiliki falsafah hidup Sunda yang sangat populer, yaitu Tri Silas: Silih asih, silih asah, silih asuh. Bagi orang Sunda sikap saling menyayangi (silih asih), saling berbagi ilmu pengetahuan (silih asah) dan saling membimbing berlandaskan keharmonisan (silih asuh) merupakan tuntunan utama (Rosala, et al., 2021). Konsep Tri Silas ini mewujud dalam aneka aspek kehidupan. Salah satunya dalam gerakan sosial kemasyarakatan di Kota Bandung yang bertujuan membantu orang dengan HIV dan AIDS yaitu Warga Peduli AIDS. Tri Silas menjadi prinsip yang mendorong para kader kesehatan untuk menolong dan mendampingi para K