Antika H., et al., Pola Hubungan Ketetanggaan di Masyarakat Urban (Studi Kasus di Kampung Osing, Jember E-SOSPOL Vol. VI Edisi 1; Januari – April 2019; hal. 14 - 20 Hal - 14 Pola Hubungan Ketetanggaan di Masyarakat Urban: Studi Kasus di Kampung Osing, Jember (The Pattern of Neighbourhood Relation in Urban Society: Case Study in Kampung Osing, Jember) Antika Hayati, Hary Yuswadi Program Studi Sosiologi, FISIP Universitas Jember Jln. Kalimantan 37, Jember 68121 E-mail: antikahayati81@gmail.com E-mail: ningriarumsari@gmail.com Abstract The city center is often regarded as a dense settlement structure and full of various interests. In Indonesia, the density of occupation also caused various types of migrants from the region to color the urban culture. in fact, various traditional cultures also affect the inhabitants of the city so that the term kampung town appears. The process of agglomeration and urbanization that occurred in the city of Jember also affected villages in the city center, one of which was Osing Village which was a (melting pot). The characteristics of the residents who live in this village are mostly Javanese and Madurese, this ethnic difference can lead to an interaction between village residents in the form of adjustment, competition, and tension. The purpose of this study is to describe the pattern of neighboring relationships in urban communities. This study uses a descriptive qualitative approach. The results of the study show that the relationship pattern of neighboring communities living in Kampung Osing can be identified by the joint activities they undertake. The characteristics of the people of Kampung Osing are diverse, and live in densely populated settlements. This makes them experience changes in social life. Such changes are like the emergence of social stratification formed by the existence of differences in socio-economic status both high, medium and low which are influenced by wealth ownership, employment, and educational attainment which ultimately affects the pattern of interactions that occur. On the other hand, the lack of space makes the occupying community experience the configuration of private space into public spaces and public spaces into private spaces. The neighbor relationship pattern that occurs because of crowded housing and inconvenience makes people experience "dissatisfaction" caused by the absence of standard regulations around the local environment such as the absence of a prohibition on parking vehicles in a narrow alley. In addition, they also built several social networks that were influenced by, place factors, social status factors and the common area of origin. Keywords: neighbourhood relations, space configuration, social stratification Pendahuluan Proses aglomerasi dan urbanisasi yang terjadi di Kota Jember terlihat pada pertumbuhan perkampungannya. Terjadinya proses perluasan area secara horizontal diperkotaan terjadi bersamaan dengan integrasi daerah di pinggiran secara infrastruktural dan pengembangan transportasi umum. Maka, seiring dengan adanya perubahan pada struktur internal perkampungan dalam pertumbuhan kota bahkan terjadi juga kampung-kampung menyesuaikan struktur urban tradisionalnya dengan tuntutan kota modern. Transformasi ini terjadi dalam pencairan karakter struktur kampung yang semula homogen dan berorientasi teritorial (homogen-teritorial), secara demografis, dan sosial kampung bersifat terbuka dan heterogen. Walaupun saat ini kampung-kampung mengalami integrasi didalam struktur kota yang produktif, dalam hal ini kampung tetap mempertahankan karakternya sebagai permukiman dengan fungsi campuran. Nama-nama kampung mayoritas berasal dari zaman prakolonial, karena kampung di tengah kota didirikan pada periode prakolonial namun saat ini fungsi asal kampung telah berganti. Bagi penduduk lama yang tinggal di kampung, kedatangan para pendatang membuka peluang usaha berupa penyewaan dan penjualan tanah ataupun rumah, dinamika ini membuat kampung- kampung mengalami kepadatan penduduk serta lebih bersifat heterogen. Selain itu, kampung tetap menjadi bagian vital kota modern walaupun sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi yang memunculkan pertumbuhan kota begitu pesat. Seperti halnya penyebutan nama kampug di wilayah perkotaan lainnya, nama-nama kampung di Kabupaten Jember secara historis berawal dari konsentrasi penduduk yang melakukan migrasi besar- besaran dari daerah Madura dan Jawa. Kampung Osing merupakan salah satu konsentrasi masyarakat jawa yang berdialek osing yang ada di pusat kota Jember. Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat yang bersuku Jawa memiliki ikatan kekerabatan yang tinggi dan mempengaruhi dialek bahasa jawa yang dituturkan oleh orang osing (salah satu sub-suku jawa yang ada di Kabupaten Banyuwangi). Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di Kampung Osing telah mengalami perubahan atau terjadi proses regenerasi. Masyarakat yang dulu berbahasa osing saat ini hanya tinggal beberapa keluarga yang bersuku osing, sehingga komposisi masyarakatnya pun mengalami pergeseran. Hal tersebut dapat mempengaruhi tata ruang dalam kehidupan masyarakat setempat. Seperti adanya brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by e-SOSPOL