Muhammad Faisal Etika Religius Masyarakat Melayu Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu, Vol. 2, No. 1, Juni 2019 http://ejournal.stainkepri.ac.id/index.php/perada 1 Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu P-ISSN 2656-7202 E-ISSN 2655-6626 Volume 2 Nomor 1, Januari-Juni 2019 DOI: https://doi.org/10.35961/perada.v2i1.30 ETIKA RELIGIUS MASYARAKAT MELAYU: KAJIAN TERHADAP PEMIKIRAN RAJA ALI HAJI Muhammad Faisal STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau faisal@stainkepri.co.id ABSTRAK Tulisan ini bertujuan menggambarkan etika religius masyarakat Melayu dalam pemikiran Raja Ali Haji. Dalam perspektif masyarakat Melayu, persoalan etika yang menyangkut tentang keabsahan suatu perbuatan memang menjiwai spektrum pemikiran Melayu. Semenjak mangkatnya Sultan Mahmud Syah tahun 1699 dari dinasti terakhir kesultanan Melaka, menandai titik awal terjadinya perubahan radikal dalam etika masyarakat Melayu. Dalam konteks ini, perkembangan pemikiran etika Melayu mulai mencari bentuknya secara kritis. Salah satu pemikir Melayu yang sangat concern terhadap persoalan ini adalah Raja Ali Haji. Beliau berpendapat, persoalan baik dan buruknya suatu tindakan tidak lagi di cari dalam suatu bingkai tunggal kepemimpinan feodal, akan tetapi lebih kepada faktor-faktor non-struktural, seperti keberadaan syara', pemikiran-pemikiran keagamaan maupun unsur etnisitas yang semakin memperkaya pandangan etika dalam tradisi Melayu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan sumber data primer karya-karya Raja Ali Haji, seperti Tuhfatun Nafis,Silsilah Melayu Bugis, Gurindam XII, Muqaddimah fi Intizham, Tsamarat al-Muhimmah, Kitab Pengetahuan Bahasa, Bustanul Katibin dan sumber sekunder berupa tulisan dan naskah terkait dengan memakai content analysis. Ada empat hal yang menjadi poin penting dalam etika masyarakat Melayu menurut Raja Ali Haji yang harus diperhatikan, yaitu moralitas penguasa, yang terdiri dari prinsip keadilan, musyawarah dan persamaan, keta’atan pada syari ‘at, bahasa serta pembentukan lingkungan bermoral. This paper aims to describe the religious ethics of Malay society in Raja Ali Haji’s thoughts. In the perspective of Malay society, ethical issues related to the validity of an act inspired the spectrum of Malay thoughts. Since the death of Sultan Mahmud Syah in 1699 from the last dynasty of the Melaka Sultanate, it was marked as the beginning of a radical change in the ethics of Malay society. In this context, the development of Malay ethical thoughts began to critically look for its form. One of Malay thinkers who very concerned about this issue was Raja Ali Haji. He argued that the problem of good and bad of an action was no longer sought in a single frame of feudal leadership, but rather non-structural factors like the existence of syara', religious thoughts or even elements of ethnicity enriching the ethical view in tradition Malay. The approach used in this study was a qualitative