Ilmu Ushuluddin, Juli 2014, hlm. 135-143 ISSN 1412-5188 Vol. 13, No. 2 FILSAFAT ETIKA IBN MISKAWAIH Abdul Hakim Jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin Abstract Ibn Miskawayh is one of the Islamic philosophers who focused on the study of ethics. In his “Tahdheeb al-Akhlaq” he reflects on the concept of ethics systematically using Greek philosophy and combine it with the Qur’an and hadith. Although compared to the concept of ethics of Immanuel Kant’s deontology, ethics Ibn Miskawayh not apply well to the rule of law. However, the severity of the effort is a big contribution on the development of ethical discourse that connects “rational ethics” and “ethical revelation”. Kata kunci: etika Islam, etika keutamaan, etika kebajikan Pendahuluan Etika pada umumnya diidentikkan dengan moral (atau moralitas). Namun, meskipun sama terkait dengan dengan baik-buruk tindakan manusia, etika dan moral memiliki perbedaan pengertian. Moral lebih diarahkan pada pengertian “nilai baik dan buruk dari setiap perbuatan manusia”, sedangkan etika lebih ditekankan pada pengertian “ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk”. 1 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa etika merupakan bagian teori tentang baik dan buruk, adapun moral adalah bagian praktiknya. Dalam tradisi Barat, pada umumnya, pandangan-pandangan menganai etika dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: etika hedonistik, utilitarian, dan deontologis. 2 Hedonisme mengarahkan etika kepada keperluan untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya kesenangan bagi manusia.Etika utilitarian mengoreksinya dengan menambahkan bahwa kesenangan atau kebahagiaan yang dihasilkan oleh suatu etika yang baik adalah kebahagiaan bagi sebanyak mungkin orang, dan bukan kesenangan atau kebahagiaan individual.Adapun etika deontologis memandang bahwa sumber bagi perbuatan etis adalah rasa kewajiban yang diperoleh dari “nalar praktis” dan bukan dari “nalar teoritis”.Secara umum, pada kenyataannya hasil pemikiran para filsuf Barat merupakan bagian dari ketiga aliran besar tersebut atau bahkan mengambil prinsip-prinsip dasar etika dari aliran yang ada dan kemudian mereka rumuskan dalam sebuah sistem etika. Kalau dihubungkan dengan etika Islam, jelaslah bahwa etika Barat punya berbagai kesamaan dan perbedaan antara keduanya.Etika Islam juga berpihak pada teori etika yang bersifat fitri.Di sinilah letak bertemunya etika Islam dengan etika Yunani seperti Socrates dan Plato, juga dengan etika Barat Modern, Immanuel Kant. Di sisi lain etika Islam, meskipun juga menekankan rasionalitas, akan tetapi etikanya juga berdasarkan wahyu sebagai sumber tindakan etis. Demikian juga yang dilakukan oleh Ibnu Miskawaih bahwa dalam mengemukakan argumen-argumen dalam sistem etikanya tanpa menomorsatukan wahyu untuk memecahkan berbagai kesulitan teoritis. Oliver Leaman 3 menegaskan 1 Haidar Bagir, Etika “Barat”, Etika Islam, pengantar dalam Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam, (Bandung: Mizan, 2002), h. 15. 2 Haidar Bagir, Etika “Barat”, Etika Islam, h. 15-16.