Vol 3 No 1, Januari 2020; halaman 345- 356 E-ISSN : 2621 – 2609 https://jurnal.ft.uns.ac.id/index.php/senthong/index ________________________________________________________________________345 KONSEP CO-LIVING PADA DESAIN HUNIAN VERTIKAL DAN COMMUNITY MALL DI KOTA TANGERANG Cahyo Priambodo, Ofita Purwani, Tri Yuni Iswati Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta priambodo.cahyo@gmail.com Abstrak Alternatif bentuk hunian terus berkembang seiring dengan timbulnya beragam permasalahan dari pembangunan hunian vertikal yang masif di perkotaan saat ini, mulai dari permasalahan fisik bangunan terhadap kawasan hingga permasalahan sosial di antara penghuni hunian vertikal sendiri. Dominasi ruang privat dan minimnya ruang publik telah menciptakan lingkungan hunian yang pasif dan minim interaksi. Hal ini menimbulkan kurangnya kontrol sosial di antara penghuni yang telah menjadikan hunian vertikal sebagai tempat yang rawan akan tindak kriminalitas, seperti beberapa apartemen di Kota Jakarta yang dikenal sebagai lokasi prostitusi terselubung, bahkan kasus bunuh diri. Kota Tangerang merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan hunian vertikal yang cukup masif. Di Kota Tangerang sendiri angka rumah tangga yang belum memiliki hunian atau biasa disebut backlog hunian milik mencapai kurang lebih 200.000 unit. Perlu adanya solusi untuk menyelesaikan permasalahan permukiman di Kota Tangerang melalui bidang keilmuan arsitektur dengan konsep hunian Co-Living. Tujuan dari penelitian ini adalah mengimplementasikan konsep Co-Living baik dalam segi spasial yang dapat mengintervensi aspek non-spasial dengan didukung oleh teori-teori pendukung yang berorientasi pada interaksi manusia di dalam sistem objek perancangan arsitektur berupa hunian vertikal dan Community Mall secara menyeluruh. Hasil dari penelitian berupa penerapan konsep Co-Living pada proyeksi program ruang, zonasi kawasan dan modul hunian Co-Living. Kata kunci: Co-Living, hunian vertikal, Community Mall, Kota Tangerang, interaksi sosial 1. PENDAHULUAN Pertumbuhan penduduk yang pesat di Kota Tangerang menyebabkan tingginya permintaaan akan hunian. Di Kota Tangerang sendiri angka rumah tangga yang belum memiliki hunian atau biasa disebut backlog hunian milik mencapai kurang lebih 200.000 unit (Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2016). Ketimpangan antara ketersediaan lahan dan tingginya permintaan hunian telah menciptakan tren perumahan baru di kota Tangerang. Menurut riset Crushman and Wakefield Indonesia (Hariyanti, 2016), dari seluruh kawasan megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), Tangerang (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan) tampil sebagai pemasok apartemen terbanyak, yaitu 30,9% pada kuartal IV-2016. Di kota Tangerang sendiri terdapat lebih dari 18 gedung apartemen dengan total sekitar 5000 unit yang telah terbangun dari 8.571 unit. Perkembangan hunian apartemen yang masif juga dapat menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan maupun sosial penghuni di dalamnya. Negara seperti Amerika Serikat telah merasakan dampak negatif dari pembangunan hunian vertikal yang terlalu masif atau high density development seperti yang terjadi di kawasan Bronx, New York, mulai dari permasalahan minimnya ruang terbuka hijau, ketersediaan air tanah yang terus berkurang, lanskap kota yang repetitif dan membosankan, kerusakan pada bangunan akibat mahalnya biaya perawatan utilitas bangunan, hingga angka kriminalitas yang terus meningkat (Newman, 1996). Permasalahan sosial dari pembangunan hunian vertikal yang masif juga telah dibahas oleh seorang arsitek dan ahli tata kota bernama Oscar Newman