Prosiding Konferensi Mahasiswa Desain Komunikasi Visual 2020 608 IDENTITAS BUDAYA DALAM KARAKTER TOKOH BAGIO DAN BONAR DI FILM PENDEK NAMBEL BAN Felivia Devanie 1 , Lala Palupi Santyaputri 2 1,2 Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Desain, Universitas Pelita Harapan e-mail: felivia.d@gmail.com 1 , lala.santyaputri@uph.edu 2 ABSTRAK Ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap flm terus bertambah setiap tahunnya, teknologi yang terus berkembang ternyata berdampak juga terhadap kelajangan yang ikut meningkat. Sebagai negara multikultural, masyarakat Indonesia menganggap kelajangan menjadi suatu masalah. Dilihat melalui kacamata budaya dan adat istiadat yang mempercayai pernikahan adalah suatu kewajiban. Melalui penelitian kualitatif dengan menggunakan metode observasi, penulis akan fokus dengan adat istiadat dan budaya dari suku Jawa dan Batak. Berdasarkan data yang didapatkan, penulis sebagai sutradara akan merancang dua tokoh karakter utama yang berasal dari dua suka berbeda secara tiga dimensional. Identitas budaya masing - masing suku dapat diitonjolkan melalui karakter dari dua tokoh Bagio dan Bonar. Film pendek ini diharapkan dapat menonjolkan kekayaan kebudayaan Indonesia sebagai negara Bhineka Tunggal Ika. Kata Kunci: Film, Karakter, Kelajangan, Kebudayaan, Sutradara PENDAHULUAN Seni memiliki berbagai macam bentuk, ada yang berbentuk visual, audio maupun keduanya. Salah satunya adalah flm yang merupakan sebuah bentuk seni yang mampu membawa realitas kehidupan ke dalam sebuah rekaman yang dapat diputar untuk ditonton bersama-sama (Joseph, 2011). Sebagai salah satu media komunikasi, flm memiliki nilai seni tersendiri karena terbentuk dari gabungan kerja sama berbagai tenaga dalam bidang kreatif. Salah satu peran yang terpenting dalam pembuatan flm adalah sutradara dimana penulis mengambil tanggung jawab sebagai sutradara dalam produksi flm pendek “Nambel Ban”. Ketertarikan masyarakat Indonesia akan flm terus berkembang setiap tahunnya, hal ini terbukti dari jumlah bioskop yang terus bertambah dengan jumlah 211 bioskop dan 904 layar di tahun 2014 (Ardiyanti, 2017). Namun begitu juga jumlah kelajangan yang turut meningkat selama 10 tahun terakhir di masyarakat Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2010). Walaupun kenyataannya, dalam masyarakat Indonesia menikah sering kali dianggap sebagai sebuah kewajiban dalam kehidupan seseorang. Fakta ini menimbulkan tekanan bagi para lajang, dimana kelajangan bagi masyarakat Indonesia dianggap lebih dari sekedar ketiadaan pasangan namun sebagai kekurangan serta sebagai keadaan yang tidak diinginkan (Himawan, 2018).