POLEMIK QIRĀ’ĀT SAB’AH ANTARA AZ-ZAMAKHSYARĪ DAN ABŪ ḤAYYĀN Fuad Nawawi Institut Agama Islam Negeri “Syekh Nurjati” Cirebon, Jawa Barat fuuadnawawi@gmail.com Abstrak Tulisan ini menunjukkan bahwa tradisi, jaringan sosial budaya, ideologi, dan kepentingan membentuk cara pandang terhadap pengetahuan, termasuk penge- tahuan tentang qirā’āt sab‘ah. Az-Zamakhsyarī (w. 538 H/ 1143) kritis terhadap qirā’āt sab‘ah karena ia berlatar belakang muktazilah yang menilai bahwa sebagian ragam bacaan qirā’āt sab‘ah merupakan produk ijtihad ulama. Muktazilah juga beranggapan bahwa tidak semua qiraah merupakan bagian dari Al-Qur’an. Az- Zamakhsyarī juga berpihak kepada mazhab nahwu Basrah yang memposisikan kaidah bahasa sebagai “hakim” yang menentukan. Jika ada qiraah yang tidak sesuai kaidah, qiraah tersebut dihukumi sebagai qiraah syāż. Di pihak lain, Abū Ḥayyān (w. 745 H/ 1344) membela qirā’āt sab‘ah karena Abū Ḥayyān berlatar belakang Asy‘ariyyah. Aliran teologi ini menilai qirā’āt sab‘ah sebagai qiraah mutawatir sehingga tabu untuk dikritik. Abū Ḥayyān berpihak kepada mazhab nahwu Kufah yang menilai apa pun yang berasal dari ungkapan orang Arab—tak terkecuali qirā’āt sab‘ah—diterima sebagai sumber bahasa, meskipun pada mulanya berbeda dengan kaidah umum. Kata Kunci Abū Ḥayyān, az-Zamakhsyarī, mazhab Basrah; mazhab Kufah, qirā’āt sab‘ah. Ṣuḥuf, Vol. 14, No. 1, Juni 2021, hlm. 179-199. DOI: https//doi.org/10.22548/shf.v14i1.581 ISSN 1979-6544; eISSN 2548-6942; http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id; https://jurnalsuhuf.online/