Dinamika Rekayasa Vol. 7 No. 1 Febuari 2011 ISSN 1858-3075 METODE BIOPREDIKSI PERUBAHAN IKLIM MENGGUNAKAN FOSIL POLEN DAN SPORA PADA KALA PLIOSEN DI DAERAH BANYUMAS Climate Change Bioprediction Method used Pollen and Spore Fossil at Pliocene Age in Banyumas R. Setijadi 1 ; A. Widagdo 2 ;S.W.A. Suedy 3 rachmad.setijadi@unsoed.ac.id asmoro.widagdo2@unsoed.ac.id 1,2) Program Studi Teknik Geologi, Jur. Teknik FST UNSOED, Kampus Blater Purbalingga 3) Jurusan Biologi FMIPA UNDIP, Jl. Prof. Soedarto SH, Kampus Tembalang, Semarang Abstract— Pollen and spore fossil of Pliocene sedimentary (Tapak Formation) have been used as a guidance for prediction (bioprediction) of climate change which happened at Pliocene age in Banyumas. Geomorphological and vegetation changes happen in conformity with climate changes. By knowing pollen and shpore fossils, we can know the type of vegetation which produce it. Then pollen and shprore fossils which found widely on the sedimentary rock is an exact way for tracing of climate change which had happened. The aim of this research is to explore bioprediction method base on polen and sphore data, to know morphological change which happened because of climate change on Pliocene age in Banyumas. This research consist of field and labolatory work. Field work is for taking rock sample and making stratigraphic collumn. Labolatory work consist of making plate from the samples using asetolisis methode, identification and clasification of fosils and palynology analisis. The result of the research show that the research area can be included on the zone of Podocarpus imbricatus from Late Pliocene Age which is shown by presence of Podocarpus imbricatus and Stenochlaenidites papuanus. There has 3 events of climate change that are hot-cold-hot which corelate with transgresion (relative sea level rise) and regresion (relative sea level drop) Keyword— pliocene, climate, palinology, bioprediction PENDAHULUAN Perubahan iklim merupakan suatu sistem yang berkesinambungan sejak keberadaan bumi ini dari masa lampau hingga sekarang. Perubahan iklim yang terjadi pada suatu waktu akan sangat mempengaruhi kehidupan yang ada pada waktu itu, baik fauna maupun floranya, diantaranya adalah perubahan bentang alam vegetasi yang terjadi bersama dengan terjadinya perubahan iklim. Fosil merupakan salah satu kunci utama dari informasi perubahan iklim masa lampau. Beberapa informasi yang dapat diinterpretasi dari studi mikrofosil adalah perubahan iklim masa lampau yang diketahui dari dinamika bentang alam vegetasinya berdasarkan bukti palinologi berupa fosil polen dan spora tumbuhan penyusunnya. Penelitian perubahan iklim masa lampau (paleoklimat) dengan memanfaatkan rekam fosil akan memberikan gambaran penting mengenai climate system variability, dan hubungannya dengan iklim di masa sekarang dan akan datang. Fosil polen dan spora telah digunakan oleh beberapa peneliti, seperti Ricklefs (1990) untuk menggambarkan iklim di Jawa selama Pliosen yang lebih sejuk dan kering dengan savana yang tersebar serta hutan bakau banyak terdapat di bagian tengah. Demikian pula Semah (1984) menunjukkan daerah tengah Pulau Jawa dipengaruhi oleh aktivitas gunung berapi dan terjadi rekolonisasi tanah yang berkaitan dengan hutan basah tropis dataran rendah. Analisis fosil polen yang terdapat pada sedimen daerah Sangiran, mengindikasikan pada awal Pliosen pernah terdapat hutan bakau/mangrove di daerah ini (Semah, 1982; van Zeist et al., 1979). Raharjo dkk. (1994) menggunakan fosil polen dan spora untuk menyusun zonasi Palinologi Pulau Jawa, dimana pada kala Miosen Akhir-Pliosen awal di Jawa dicirikan dengan zona Stenochlaenidites papuanus yaitu dominasi Stenochlaenidites papuanus, pemunculan awal Podocarpus imbricatus serta kepunahan Florschuetzia trilobata. Sedangkan Pliosen Akhir dicirikan oleh zona Podocarpus imbricatus dengan adanya kemunculan dan asosiasi Podocarpus