A. PENDAHULUAN modal intelektual, sosial, dan kredibilitas. Konsekuensinya, tututan untuk terus menerus Perkembangan ilmu pengetahuan dan memutakhirkan pengetahuan menjadi suatu teknologi yang berlangsung sangat cepat telah keharusan. Mutu lulusan tidak cukup diukur menimbulkan pengaruh perubahan yang sangat dengan standar lokal dan nasional, tetapi juga cepat pula pada berbagai aspek kehidupan. global. Perkembangan ini sering digambarkan oleh para peramal masa depan (futurist) sebagai Pemerintah, melalui Pusat Kurikulum abad pengetahuan (the knowledge age), karena telah mengembangkan kurikulum dengan pengetahuan akan menjadi landasan utama pendekatan kompetensi untuk meningkatkan segala aspek kehidupan. Kalau abad 20 ditandai kualitas dan pemerataan pendidikan nasional oleh kemajuan luar biasa di bidang manufaktur, serta memenuhi tututan desentralisasi khususnya teknologi informasi dan komputer, pendikan. Kurikulum berbasis kompetensi maka abad 21 peran manufaktur akan beralih ke disusun dengan maksud agar lulusan sektor jasa yang berbasis pengetahuan pendidikan nasional memiliki keunggulan yang (Ardhana, 2000:1). Jika pengetahuan menjadi kompetetif dan komparatif. Hal ini dilakukan tumpuhan kehidupan kehidupan, institusi untuk merespon perkembangan informasi, ilmu pendidikan sudah seharusnya meninjau ulang pengetahuan, teknologi, dan seni serta tujuan dan paradigma pembelajaran yang melayani keanekaan kebutuhan dan selama ini digunakan, agar para lulusan mampu kemampuan daerah. Kurikulum berbasis bertahan hidup pada abad 21. Kesejahteraan kompetensi menggambarkan standar minimal bangsa bukan lagi bersumber pada sumber daya kualitas pendidikan yang berlaku secara alam dan modal fisik, tetapi bersumber pada nasional. 190 BEBERAPA PERSPEKTIF TEORI PENYUSUNAN BAHAN AJAR KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA Yuni Pratiwi Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Email: yuni_sendang@yahoo.com ABSTRACT Facing continuous global changes, the Indonesian government views that a centralized curriculum is incapable of accommodating the development of knowledge and community needs in the local, national, and global levels. A competence-based curriculum is constructed with an expectation that in the national education system graduates have competitive and comparative advantages. The Indonesian Language subject equips students with awareness that the language is the national identity that unifies Indonesian people as a nation and simultaneously the subject develops their linguistic and communicative competence. Teachers’ understanding of the scope of the competence contents and theoretical perspectives in instructional materials development affects the level of the competence attainment. Theoretical perspectives help teachers to develop instructional materials for language skills relevant to students’ communicative needs in real life. Keywords: perspective, instructional materials for the Indonesian language skills, School-Based Curriculum