JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 3 Oktober 2017 ISSN : 2579-5872 THE FACTORS CORRELATED WITH WOMEN’S ACTION IN HAVING IVA TESTED IN THE WORKING AREA OF KABANJAHE PUSKESMAS, KARO REGENCY, IN 2017 SARTIKA BR. MANIHURUK, HERU SANTOSO, AGNES PURBA ABSTRACT Cervical cancer is one of public health problems with its hidden characteristic. Women’s negligence in the threat of this disease has made them difficult to handle it. Today, there is an early detection method in cervical cancer which is called IVA method which is simple, inexpensive, and accurate. Unfortunately, it has not been unequally distributed in Kabanjahe Puskesmas. Some women say that they do not know about it. The objective of the research was to analyze some factors which were correlated with women’s having IVA tested in the working area of Kabanjahe Puskesmas, in 2017. The research was conducted from January until June, 2017, using observational analytical method with cross sectional design. The population was 9,326 married and unmarried women who were 30-50 years old in the working area of Kabanjahe Puskesmas, and 96 of them were used as the samples, using sample random sampling technique. The data were analyzed by using chi square test at α = 0.05. The result of the research showed that there was the correlation of education (OR=8.7), occupation (OR=4.5), knowledge (OR=8.8), attitude (OR=1.4), source of information (OR=9.3), husbands’ support (OR=2.0), and health care providers’ support (OR=7.0) with women’s having IVA tested. There was no correlation of the variables of attitude and husbands’ support with women’s having IVA tested. It is recommended that the Health Agency of Karo Regency provide refreshment for IVA model Puskesmas, add the number of IVA trained personnel, and give reward to good performance Puskesmas. The management of Kabanjahe Puskesmas should increase health education about early detection in cervical cancer and increase people affordability in IVA test in the health facilities in the working area of Kabanjahe Puskesmas. Keywords: Factors, Women’s Action, IVA Test PENDAHULUAN Penelitian WHO tahun 2005 menyebutkan lebih dari 500.000 kasus baru dan 260.000 kasus kematian yang di karenakan oleh kanker servik dan 90% di antaranya yang terjadi di negara berkembang (Yuliwati, 2012). Di wilayah ASEAN kanker servik mempunyai insiden yang tinggi, di mana diantaranya Singapore 25,0% Cina 17,8% Melayu dan Thailand sebesar 23,7% per 100.000 penduduk (Rasjidi, 2009). Di Indonesia diperkirakan 15.000 kasus baru kanker serviks setiap tahun dengan angka kematian sekitar 7.500 kasus per tahun (Emilia, 2010).Menurut perkiraan Departemen Kesehatan RI saat ini, jumlah wanita penderita kanker servik berkisar 90- 100 kasus per 100.000 penduduk dan setiap tahunnya terjadi 40 ribu kasus kanker servik (KPKN, 2015). Prevalensi dan estimasi jumlah penderita kanker servik di Provinsi Sumatera Utara mencapai 0,7% atau sekitar 4.694 penderita pertahun 2013 (Infodatin, 2012).Kanker servik merupakan salah satu masalah dalam kesehatan masyarakat yang tersembunyi bebannya. Penyakit kanker dapat menyerang semua umur, hampir semua kelompok umur pada penduduk memiliki prevalensi penyakit kanker yang cukup tinggi. Masalah kanker servik berawal dari adanya infeksi virus HPV (Human Papiloma Virus ) yang di mulai dari perilaku seksual dan pola hidup yang salah. Di tambah lagi ketidak pedulian perempuan akan ancaman penyakit ini, membuat sulitnya mengendalikam perjalanan penyakitnya. Padahal bila perempuan peduli untuk cek skrining dan menyadari manfaat pemeriksaan awal, tentunya penambahan kasus kanker servik mungkin dapat di turunkan (Emilia, 2010).Dewasa ini telah di kenal beberapa metode skrining dan deteksi dini kanker servik, yaitu tes pap smear, IVA, pembesaran IVA dengan gineskopi, kolposkopi, servikografi, (Wilgin, Christin et al, 2011). Namun yang sesuai dengan kondisi di negara berkembang termasuk Indonesia adalah dengan menggunakan metode IVA, karena tekhiknya mudah/sederhana, biaya rendah / murah dan tingkat sensifitasnya tinggi, cepat dan cukup akurat untuk menemukan kelainan pada tahap kelainan sel (displasia) atau sebelum prakanker. Untuk itu di anjurkan Tes IVA bagi semua perempuan berusia 30 sampai 50 tahun dan perempuan yang sudah melakukan