JIMMI 4 (3) (2022) DOI: ……………………… http://ejournal.stai-aljawami.ac.id/index.php/jimmi e-ISSN: ANALISIS URF TERHADAP TRADISI HUAP LINGKUNG PADA ACARA PERNIKAHAN ADAT SUNDA (Penelitian di Kp. Gasol Desa Gasol Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur) Asri Maryana Pendidikan Islam Anak Usia Dini Email: asri.maryana23@gmail.com Udin Juhrodin Pendidikan Agama Islam Email: udinjuhrodin@gmail.com ABSTRACT The huap lingkung tradition has a meaning as a release to a married child and an expression of welcome to the son-in-law, because both parents will not take care of it anymore, do not feed as before and then they themselves take care of their needs. This study aims to determine the tradition of huap lingkung at Sundanese traditional weddings using urf analysis. The research was carried out using descriptive qualitative with data collection using interviews. The research subjects were 4 people, namely 1 person who had carried out the Huap Lingkung tradition, 1 person as the executor or guide of the Huap Lingkung tradition, and 2 people as religious leaders. The results show that the Huap Lingkung tradition has been carried out since ancient times or since the time of the ancestors. The tradition of huap lingkung is considered by the Sundanese community as a positive activity because it provides value for giving each other love, and harmony in the family through the bribes given. However, in the religious tradition of huap lingkung it is not recommended because the activity of bribing each other between couples in public is included in activities that show affection in public, which is prohibited in religion. The conclusion of this research is that the huap lingkung tradition is seen from the urf aspect, it is a type of urf fasid which is contrary to Al-Quran al-Hadiths and logic, so this tradition is not allowed. Keywords: huap lingkung tradition, Sundanese traditional wedding, urf. ABSTRAK Tradisi huap lingkung memiliki makna sebagai pelepasan kepada anak yang menikah dan ungkapan selamat datang kepada menantu, karena kedua belah pihak orang tua tidak akan mengurusnya lagi, tidak memberi makan sebagaimana sebelumnya dan yang selanjutnya mereka sendiri yang mengurus keperluan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tradisi huap lingkung pada acara pernikahan adat Sunda dengan menggunakan analisis urf. Penelitian yang dilaksanakan menggunakan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan datanya menggunakan wawancara. Subjek penelitian berjumlah 4 orang yaitu 1 orang sebagai yang pernah melakukan tradisi huap lingkung, 1 orang sebagai pelaksana atau yang memandu tradisi huap lingkung, dan 2 orang sebagai tokoh agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi huap lingkung sudah dilaksanakan sejak dulu atau sejak zaman nenek moyang. Tradisi huap lingkung dinilai oleh masyarakat sunda sebagai aktivitas yang positif karena memberikan nilai untuk saling memberi cinta, dan