PUBLIC POLICY AND MANAGAMENT INQUIRY. VOLUME 1 ISSUE 1 TAHUN 2020, Page 15-32 15 PEREMPUAN DAN ALAM DALAM WACANA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (STUDI EKOFEMINISME PROYEK MIFEE) Rahmalia Rifandini 1* dan Krisnaldo Triguswinri 2 1 Mahasiswa Magister Sosiologi, Universitas Indonesia 2 Mahasiswa Magister Administrasi Publik, Universitas Diponegoro * Email: rahmalia.rifandini91@ui.ac.id Abstrak Cita-cita pembangunan berkelanjutan yang tertuang dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) menimbulkan persoalan dilematis. Keberpihakan terhadap perlindungan ekosistem hutan dipertanyakan kembali ketika dihadapkan pada kepentingan manusia massal. Sebab, pada kenyataannya, pembangunan berkelanjutan tidak benar-benar mengupayakan keseimbangan alam. Praktik pembangunan berkelanjutan yang diwujudkan oleh MIFEE mengakibatkan marjinalisasi komunitas adat Orang Marind di Papua. Perlakuan alam yang diskriminatif turut mempengaruhi relasi perempuan dan alam. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan ‘proyek kekhawatiran bersama’ menimbulkan kerentanan produksi di tingkat lokal. Argumen tulisan ini bertujuan menempatkan kepentingan gender dalam analisis untuk menjelaskan keberceraian manusia dan alam dengan bertolak dari relasi perempuan terhadap alam. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa studi literatur. Kata Kunci: Ekofeminisme, MIFEE, Pembangunan Berkelanjutan Abstract The goals of sustainable development that are contained in the Sustainable Development Goals (SDGs) pose a dilematical issue. The alignments to the protection of forest ecosystems are requestionable when faced with mass human interests. In fact, sustainable development does not really seek the balance of nature. The sustainable development practices created by MIFEE resulted in the marginalization of the Marind indigenous peoples in Papua. Discriminatory natural treatment also affects women and nature relationships. This article aims to describe the mutual concerns project resulting in a production vulnerability at the local level. The argument of this writing aims to place gender interests in analysis to explain the abundance of man and nature by departing from women's relationships with nature. This study was conducted using a qualitative approach with data collection methods through literary studies. Keywords: Ecofeminism, MIFEE, Sustainable Development PENDAHULUAN Krisis lingkungan semakin kompleks ketika kepentingan penaklukan alam mengendarai proyek pembangunan, juga berakibat terhadap kehidupan kultural masyarakat. Terlebih, pelaksanaan pembangunan diaktualisasikan sebagai pencapaian kebutuhan kehidupan jangka panjang. Proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) merupakan wujud kepengaturan negara untuk memenuhi pasokan pertanian dan perkebunan berskala nasional yang berdampak terhadap pengalihan hutan di Papua. Setidaknya, dibutuhkan lahan sekitar 1.283.000 hektar untuk investasi pertanian [1].