NATURALIS – Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 59 PERSEPSI MASYARAKAT PERKOTAAN TERHADAP PEMBANGUNAN DAN FUNGSI HUTAN KOTA (Studi Kasus di Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Kota Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan) Afdhal Redha 1) , Enggar Apriyanto 2) , Puji Harsono 3) 1) Program Studi Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu 2) Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu 3) Jurusan Agroteknologi, Fak Pertanian, Universitas Bengkulu ABSTRAK Kondisi lingkungan hidup yang makin buruk seperti pencemaran udara, peningkatan suhu dan penurunan air tanah memerlukan upayaperbaikan lingkungan, salah satunya adalah dengan pembangunan hutan kota. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Pasar Baru Kecamatan Kota Manna Kabupaten Bengkulu Selatan pada bulan Maret sampai Mei 2012 dengan tujuan untuk mengetahui: (1) kondisi sosial ekonomi masyarakat (2) persepsi masyarakat mengenai pembangunan dan fungsi hutan kota ,dan (3) hubungan antara faktor sosial ekonomi dengan persepsi masyarakat Responden berjumlah 82 orang yang diambil dari 72 orang masyarakat umum perkotaan dan 10 orang pejabatan instansi pemerintah. Metoda analisis data adalah analisis deskriptif dan analisa kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat perkotaan tergolong makmur. Masyarakat rata-rata memiliki sikap positif (kategori III) terhadap pembangunan dan fungsi hutan kota. Variabel umur, pendidikan formal dan pendapatan merupakan faktor sosial ekonomi yang berpengaruh nyata terhadap persepsi masyarakat mengenai pembangunan dan fungsi hutan kota. Kata Kunci : Hutan kota, Persepsi, Faktor sosial ekonomi PENDAHULUAN Hutan merupakan sumber daya alam dan memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia. Peran hutan adalah untuk menjaga, mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan air dan kesuburan tanah. Hutan tidak hanya memberikan manfaat pada saat ditebang (manfaat eksploitasi) tapi juga banyak memberi manfaat tatkala sumberdaya ini dibiarkan (manfaat konservasi) (Fauzi, 2006). Di dalam agenda 21 Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Rio de Janeiro pada tahun 1992 disebutkan manfaat hutan sebagai paru-paru dunia (Salim, 2004). Hutan menjadi media hubungan timbal balik antara manusia dan makhluk hidup lainnya dengan faktor-faktor alam yang terdiri dari proses ekologi dan merupakan satu kesatuan siklus yang dapat mendukung kehidupan (Reksohadiprojo, 2000). Di Indonesia, perencanaan pembangunan infrastruktur kurang baik, pembangunan gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah, perumahan, pabrik yang tidak memperhatikan tata ruang kota. Lahan yang terbatas untuk pembangunan infrastruktur menjadi salah satu faktor disentegrasi pembangunan perkotaan sehingga mempersempit untuk kawasan hijau. Kondisi lingkungan hidup yang makin buruk seperti pencemaran udara, peningkatan suhu dan penurunan air tanah sehingga perlu diupayakan program untuk