Konferensi Nasional Ilmu Sosial & Teknologi (KNiST) Maret 2016, pp. 254~258 254 Diterima 18 Januari 2016; Revisi 8 Februari 2016; Disetujui 15 Maret 2016 SISTEM PAKAR DIAGNOSA KEGUGURAN PADA IBU HAMIL Fintri Indriyani 1 , Eni Irfiani 2 1 AMIK BSI Jakarta e-mail : fintri.fni@bsi.ac.id 2 AMIK BSI Jakarta e-mail : eni.enf@bsi.ac.id Abstrak Perdarahan pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus (keguguran). Abortus sering terjadi karena kurangnya informasi ibu hamil mengenai perdarahan pada kehamilan muda, seringkali ibu hamil terutama pada kehamilan anak pertama memiliki pengetahuan yang minim mengenai pendarahan, jika terjadi tanda-tanda pendarahan kadang mereka mengabaikan tanda tersebut padahal pendarahan yang terjadi bisa saja mengakibatkan keguguran. Oleh karena itu perlu adanya alat bantu atau media untuk membantu ibu hamil mengerti tentang abortus sehingga dapat memberi penanganan yang cepat dan tepat. Objek penelitian dilakukan pada Poliklinik Kebidanan di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R.Said Sukanto. Teknik pengumpulan data yang di gunakan adalah observasi, wawancara dan studi pustaka. Metode pengembangan pakar menggunakan forward chaining. Penelitian ini menghasilkan sistem pakar untuk mendiagnosa terjadinya abortus pada ibu hamil berbasis web. Terdapat beberapa jenis kelainan yang disertai perdarahan yang sering muncul dimasa kehamilan muda antara lain, Abortus Iminens, Abortus Insipiens, Abortus Kompletus, Abortus Inkompletus, Missed Abortion, Abortus Habitualis, Abortus Infeksiosus, Kehamilan Ektopik, Mola Hidatidosa. Keywords: Perdarahan Pada Kehamilan Muda, Abortus, Sistem Pakar, Forward Chaining, PHP 1. Pendahuluan Salah satu komplikasi terbanyak pada kehamilan adalah terjadinya perdarahan. Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan. Perdarahan pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan abortus (keguguran). Pada tahun 1998 rata-rata terjadi 114 kasus abortus per jam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian abortus spontan antara 1520% dari semua kehamilan. Kalau di kaji lebih jauh kejadian abortus sebenarnya bisa mendekati 50%. Pada tahun 1998 Wilcox dan kawan-kawan melakukan studi terhadap 221 perempuan yang di ikuti selama 707 siklus haid total. Di dapatkan total 198 kehamilan, dimana 43 (22%) mengalami abortus sebelum saat haid berikutnya (Prawirohardjo, 2010). Masalah abortus dikaitkan dengan tingginya angka kematian ibu melahirkan. Menurut data WHO persentase kemungkinan terjadinya abortus cukup tinggi. Sekitar 1540%, diketahui pada ibu yang sudah dinyatakan positif hamil, dan 6075% abortus terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu. Lebih dari 90% abortus di negara-negara sedang berkembang dilakukan tidak aman, sehingga berkontribusi 11-13% terhadap kematian maternal di dunia. Di Indonesia, diperkirakan 22,5 % juga mengalami abortus setiap tahun, sehingga secara nyata dapat menurunkan angka kelahiran menjadi 1,7 pertahunnya. Abortus di Indonesia masih cukup tinggi dibanding dengan negara-negara maju di dunia, yakni 2,3 juta abortus per tahun. Sulit untuk mengidentifikasi dengan tepat seberapa sering abortus terjadi. Hal ini diperkirakan merupakan bagian kecil dari kejadian yang sebenarnya, sebagai akibat ketidakterjangkauan pelayanan kedokteran modern yang ditandai oleh kesenjangan informasi (Prawirohardjo, 2010). Untuk alasan tersebut, maka perlu dibuat sebuah sistem yang dapat membantu untuk mendiagnosa terjadinya abortus pada ibu