53 STRATEGI UNTUK MERAIH KEUNGGULAN KOMPETITIF DALAM E-BUSINESS, STUDI KASUS PADA AMAZON.COM Arif Himawan Program Studi Manajemen Informatika STMIK Jenderal A. Yani Yogyakarta reef1881@gmail.com Abstrak Internet telah mengalami fase naik (growth), menurun (decline) dan growth kembali. Tidak banyak perusahaan yang terjun dalam E-Business mampu beradaptasi pada siklus hidup yang dialami oleh internet tersebut. Salah satu perusahaan yang mampu beradaptasi dan sukses dalam berbisnis pada siklus hidup internet tersebut adalah Amazon.com. Tulisan ini mencoba mengidentifikasi strategi yang dibangun oleh Amazon.com untuk meraih keunggulan kompetitif dalam berbisnis di era internet. Tulisan ini menemukan bahwa strategi yang dibangun oleh Amazon.com berdasar pada visi, misi dan nilai organisasi yang kuat serta pemahaman atas kebutuhan dan keinginan konsumen. Kata Kunci: Strategi, Keunggulan Kompetitif, SWOT, Value Chain Management, Resource-Based View Strategy. 1. Latar Belakang Sebuah industri selalu mempunyai siklus alamiah (Industrial Life Cycle) yang juga akan dialami oleh semua industri (Porter, 1994; Simons, 2001). Sebagaimana bisnis lainnya, bisnis online telah mengalami siklus alamiah dari sebuah evolusi, dari awalnya lahir kemudian tumbuh dengan cepat bahkan terlalu cepat lalu dengan cepat pula jatuh dan kemudian saat ini kembali tumbuh kembali menjadi lebih kuat tapi dengan tahapan yang lebih gradual dari awal pertumbuhannya dulu (Shabazz, 2004; Coffman dan Odlyzko, 2001). Bisnis online sendiri lahir seiring dengan lahirnya internet. Banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk turut serta dalam bisnis online ini. Perusahaan-perusahaan inilah yang kemudian dikenal sebagai perusahaan dotcom sedangkan era tersebut kemudian dikenal sebagai era dotcom bubble. Pada tahun 1999, tidak kurang dari 10 Milyar Dolar AS atau 100 Trilyun Rupiah dihabiskan perusahaan-perusahaan untuk membangun bisnis online mereka (Kenny dan Marshall, 2001). Uang yang sudah dihamburkan oleh perusahaan-perusahaan bagi E- Marketing pada awal era dotcom tersebut ternyata tidak berbanding lurus dengan respon masyarakat atas bisnis online mereka. Situasi inilah yang kemudian membuat banyak perusahaan dotcom yang kemudian memilih berhenti berbisnis