Iteks P-ISSN 1978-2497, E-ISSN 2746-7570 Intuisi Teknik dan Seni Vol. 12, No. 2, Oktober 2020 12 | Iteks Vol 12 No 2 Pengaruh Suhu dan Penambahan Gliserol Terhadap Kualitas Plastik Biodegradable dari Pati Singkong (Manihot Esculenta) dan Pati Bonggol Pisang (Musa Paradisiaca) Effect of Temperature and Addition of Glycerol on the Quality of Biodegradable Plastics from Cassava Starch (Manihot Esculenta) and Banana Weevil Starch (Musa Paradisiaca) Wahyuni Anjar Aftaningsih 1.a , Alifia Herlina Zulfiana 2 , Muhammad Mujiburohman 3 1,2,3 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta a Corresponding Author, e-mail: wahyunianjar25@gmail.com Abstraksi Dampak dari penggunaan plastik dapat merusak lingkungan, ekosistem terganggu, lahan yang menyempit akibat penumpukan sampah plastik, banjir, kesuburan tanah berkurang, dll. Salah satu solusi yang potensial adalah pengembangan plastik biodegradable (bioplastik). Penelitian ini mempelajari pembuatan bioplastik dari limbah ampas pati singkong dan pati bonggol pisang. Pemilihan bahan tersebut didasarkan pada kemampuan terurai di lingkungan lebih mudah serta ketersediaan bahan baku yang melimpah, dan kurangnya inovasi dalam pemanfaatan limbah pati singkong dan bonggol pisang. Penelitian dimulai dengan mengisolasi pati pada singkong dan bonggol pisang. Bioplastik dibuat dengan mencampur (5) g pati singkong, (1,5) g pati bonggol pisang, serta variasi volume gliserol (3, 4, 5) mL dan variasi massa selulosa (2,5; 3; 3,5) g, serta dengan melakukan variasi suhu 85, 95, 105, 115°C. Kualitas film bioplastik diuji dari sifat mekanisnya mencakup kuat tarik, elongasi, biodegrabilitas, dan ketahanan air. Dibandingkan dengan SNI plastik komersial konvensional, kuat tarik, elongasi, dan hidrofobisitas bioplastik ini masih lebih rendah, tetapi memiliki kecepatan terdegradasi jauh lebih cepat. Kata kunci : Kopi Arabika, dry house, Suhu Kontrol, roasting. Abstraction The biggest environmental problem now comes from the disposal of petroleum derivative plastic. This is because it is difficult to decipher by nature or microorganisms. Plastics are manufactured with an enormous amount reaching 187.2 million tons/year. This is due to high consumer demand is usually used in households, material wrappers, toys, electronics, and other uses that result in the amount of plastic waste in Indonesia increasing. The impact of plastic use can be damaging to the environment, disturbed ecosystem, narrowed land due to increased plastic waste disposal, flooding, infertile soil. Therefore, it is necessary to put solutions to deal with the problem that is with the manufacture of biodegradable plastics that are more environmentally friendly than cassava starch and banana humgol starch. The selection of these materials is based on the ability to break down in an easier environment as well as the availability of abundant raw materials and lack of innovation in the utilization of cassava starch and banana cuffs. This research is done by isolating cassava and banana hump to get starch. Then, the new mixture is done with 5 g cassava starch and 1.5 g of banana cuffs, aquades, cellulose, acetic acid, and glycerol with glycerol (3, 4, 5) mL and cellulose (2.5; 3; 3.5) g, and by performing temperature 85, 95.105, 115 °C. You get a coating of plastic film with elongation test, strong tensile, biodegrability and water resistance to know the mechanical properties of biodegradable plastics made. Key words: Biodegradable Plastics, Starch, Banana Bonggol, Cellulose, Glycerol. 1. Latar Belakang Plastik biodegradable (bioplastik) terbuat dari material yang dapat diperbaharui, yaitu dari senyawa-senyawa yang terdapat dalam tanaman misalnya selulosa, kolagen, kasein, dan protein. Pati merupakan salah satu polisakarida yang dapat digunakan sebagai bahan baku bioplastik.