115 Atitya Fithri Khairani, Desin Pambudi Sejahtera, Iqbal Amri Fauzal: Strategi pengobatan epilepsi: monoterapi dan politerapi Strategi pengobatan epilepsi: monoterapi dan politerapi Treatment strategies for epilepsy: monotherapy and polytherapy Atitya Fithri Khairani*, Desin Pambudi Sejahtera*, Iqbal Amri Fauzal** *Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ** Dokter internship Rumah Sakit Islam Yogyakarta (PDHI) ABSTRACT Epilepsy is a fairly common neurological disorder and if it left untreated, the seizures expose the patient to a greater risk of injury and death, cognitive and behavioral disorders, and social disadventages. The short-term target for treatment of epilepsy is seizure-free. Monotherapy has become the main principle of therapeutic management in patients with newly diagnosed epilepsy. However in some cases, the patients did not respond well to single Antiepileptic Drug (monotherapy), therefore polytherapy become treatment candidates for them. Nevertheless, there are still lack of robust evidence to guide clinicians on when and how to combine Antiepileptic Drug (AED). This article will explain the considerations of how to choose an apropriate AED, and also when and how polytherapy treatment should be carried out. ABSTRAK Epilepsi merupakan penyakit yang sering dijumpai, pada bangkitan yang tidak diobati akan meningkatkan risiko cedera dan kematian, kelainan kognitif dan perilaku serta kerugian sosial. Target jangka pendek pengobatan epilepsi adalah bebas bangkitan. Prinsip manajemen terapi untuk pasien dengan epilepsi yang baru didiagnosis adalah monoterapi. Sebagian kasus epilepsi belum terkontrol baik dengan pemberian monoterapi Obat Anti Epilepsi (OAE) sehingga politerapi menjadi strategi pengobatan selanjutnya. Belum banyak bukti yang kuat sebagai acuan dokter tentang kapan dan bagaimana mengkombinasikan OAE. Pada artikel ini kami menjelaskan pertimbangan cara memilih OAE, kapan dan bagaimana pengobatan politerapi OAE kombinasi dapat dilakukan. Keywords: epilepsy, antiepileptic drug, monotherapy, polytherapy Kata kunci: epilepsi, obat anti epilepsi, monoterapi, politerapi Correspondence: Atitya Fithri Khairani, email: atityafk@gmail.com PENDAHULUAN Epilepsi merupakan penyakit yang sering dijumpai, sekitar 50 juta orang di dunia menderita epilepsi. 1 Setiap tahunnya muncul penderita baru sebanyak 40- 190 per 100.000 individu, dengan insiden yang lebih tinggi pada negara-negara miskin. Rejimen pengobatan epilepsi menjadi lebih bervariasi dalam dua dekade terakhir yang disebabkan oleh jumlah obat antiepilepsi (OAE) yang tersedia meningkat pesat. Pemilihan terapi farmakologis yang tepat merupakan hal yang penting karena dapat memberikan efek bebas bangkitan pada 60-70% penderita epilepsi. 2,3 Obat anti epilepsi baru banyak tersedia, namun secara keseluruhan sebagian besar pasien masih mengalami permasalahan dalam hal biaya pengobatan yang mengakibatkan sekitar 30% dari populasi ini belum mencapai taget pengobatan yang optimal yaitu bebas bangkitan. 3 Dibandingkan dengan data terdahulu, kondisi saat ini tidak menunjukkan adanya peningkatan yang signifkan. 4 Paradigma pengobatan epilepsi terus berkembang. Prinsip politerapi OAE diterapkan beberapa dekade yang lalu pada penanganan epilepsi, sehingga banyak OAE dalam bentuk kombinasi diproduksi oleh pabrik obat. Tahun 1980 muncul data baru yang menyebutkan keunggulan pengobatan monoterapi dibandingkan politerapi, banyak penelitian menyatakan bahwa pasien epilepsi refrakter yang diobati dengan dua atau lebih OAE memiliki peluang kontrol bangkitan yang lebih baik dan lebih sedikit menimbulkan efek samping setelah pengobatan diubah menjadi monoterapi. 5 Sebaliknya, pada pasien yang baru didiagnosis dengan epilepsi refrakter lalu pengobatannyadiubah dari monoterapi menjadi politerapi, hanya 11-13% diantaranya mengalami perbaikan bangkitan yang berarti dan sebagian besar pasien mengalami peningkatan efek samping obat. 6