Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 08 (01) 2020 | 14-29 DOI : 10.22500/8202028692 GERAKAN SOSIAL NELAYAN DI SUMATRA BARAT: ISU, AKTOR, DAN TAKTIK GERAKAN Fishermen Social Movements in West Sumatra: Issues, Actors, and Tactics of the Movement Dwi Retno Hapsari 1*) , Rilus A Kinseng 1) , Sarwititi Sarwoprasodjo 1) , Asnika Putri Simanjuntak 2) , Khairil Anam 2) , Andri Sarifuddin 2) , Iin Sulistiyowati 2) 1 Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi, Manusia, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680, Indonesia. 2 Program Studi Sosiologi Pedesaan, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680, Indonesia. *) E-mail: retnokpm@apps.ipb.ac.id ABSTRACT The objectives of this study are to examine the main issue that provoke social movement of fishermen in West Sumatra, to identify the related actors, and to analyze the advocacy strategy carried out by fishermen. This research was conducted in July 2019 and took place in two locations, namely the City of Padang and West Pasaman Regency. The study used qualitative approach. From this study, it is revealed that the main issue that provoke social movements in West Sumatra was the issue of Regulation No. 71 of 2016 by the Minister of Maritime Affairs and Fisheries related to the prohibition of certain fishing gear. This regulation prohibits the use of 4 mm mesh size of the net and the use of lamps in operating the liftnet which reaches up to 25-30 thousand watts of power. This regulation has created a huge burden to fisherman’s work. The Other issue that is also triggering the movement was the arrestment of 6 fishing boats on June 11, 2016. Meanwhile, the main actors who are directly related to this movement are fishermen who are using liftnet (bagan). These actors can be divided into two main categories, namely movers and "participants". The main tactic used in social movements was demonstration. Keywords: Conflict, Fishermen, Social Movements, West Sumatra ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji isu yang memicu gerakan sosial nelayan di Sumatra Barat, aktor- aktornya, dan taktik gerakan sosial yang mereka lakukan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2019 di dua lokasi, yaitu Kota Padang dan Kabupaten Pasaman Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil studi menunjukkan bahwa isu utama yang memicu gerakan sosial nelayan di Sumatra Barat adalah diterbitkannya Peraturan Menteri KKP No 71 tahun 2016 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan (API). Isi peraturan tersebut adalah melarang penggunaan mata jaring ukuran 4 mm dan penggunaan lampu bagan yang mencapai daya sekitar 25-30 ribu watt. Para nelayan merasa bahwa kebijakan tersebut membatasi usaha mereka. Masalah lain yang tidak kalah pentingnya sebagai pemantik terjadinya gerakan adalah adanya penangkapan 6 kapal nelayan pada tanggal 11 Juni 2016. Sementara itu, aktor-aktor utama yang terlibat dalam gerakan ini adalah para nelayan yang menggunakan alat tangkap bagan. Keterlibatan para aktor tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yakni aktor penggerak dan “peserta”. Taktik yang mereka gunakan dalam gerakan sosial ini terutama adalah demonstrasi. Kata kunci: Konflik, Nelayan, Gerakan Sosial, Sumatra Barat Content from this work may be used under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Any further distribution of this work must maintain attribution to the author(s) and the title of the work, journal citation and DOI. Published under Department of Communication and Community Development Science, IPB University ISSN 2302-7517 | EISSN 2302-7525