Copyright© 2022; DANUM PAMBELUM: Jurnal Teologi dan Musik Gereja
1
Analisis Fenomenologis Terhadap Pembatasan Pembacaan Kitab Kidung… (Supriadi, dkk)
Article History Submitted: 08 Januari 2022/ Revised: 01 Mei 2022/ Accepted: 21 Mei 2022
Analisis Fenomenologis Terhadap Pembatasan Pembacaan
Kitab Kidung Agung Dalam Konteks Ibadah Kristen
Di Sekolah Tinggi Teolog Arastamar Bengkulu
Made Nopen Supriadi
Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu
Iman Kristina Halawa
Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu
Korespondensi: imankristinahalawa@sttab.ac.id
Minggus Dilla
Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu
Waharman
Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu
Estherlina Maria Ayawaila
Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu
Abstract:
The Song of Solomon is one of the books of Poetry. This book has been accepted into canonization as
an inspired writing by God. This book gets a lot of attacks and criticisms as a book that does not
deserve to be called the word of God because many sentences have erotic nuances, the
phenomenological implications of this book rarely get a portion in readings in Christian Worship,
even the majority of Christians suggest not to use the Song of Solomon as a reference. Reading in a
general context and only read in a special class and the phenomenon occurs in the context of College
Theology Students. In addition, the Song of Solomon also raises debates regarding the approach to
reading the book. Through qualitative methods, specifically descriptive and phenomenological
analysis. The results of this study indicate that the Song of Solomon needs to get a place in Christian
worship readings, but before entering the general reading of the Song of Solomon it is necessary to
study it specifically to avoid misunderstanding the theological meaning in every word and sentence
that has an erotic feel.
Keywords: song of solomon; erotic; reading; theology
Abstrak
Kitab Kidung Agung adalah salah satu kitab Puisi. Kitab ini telah diterima dalam kanonisasi
sebagai tulisan yang diilhamkan oleh Allah. Kitab ini banyak mendapatkan serangan dan kritikan
sebagai kitab yang tidak pantas disebut sebagai firman Allah karena ada banyak kalimat yang
bernuansa erotis, implikasi secara fenomenologis kitab ini jarang mendapatkan porsi dalam
pembacaan di Ibadah Kristen, bahkan mayoritas umat Kristen menyarankan untuk tidak
menggunakan kitab Kidung Agung sebagai pembacaan dalam konteks umum dan hanya dibaca
dalam kelas khusus dan fenomena tersebut terjadi dalam konteks Mahasiswa Sekolah Tinggi
Teologi. Selain itu kitab Kidung Agung juga menimbulkan perdebatan dalam hal pendekatan
pembacaan kitab. Melalui metode kualitatif secara khusus melakukan analisis deskriptif dan
fenomenologis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kitab Kidung Agung perlu
mendapatkan tempat dalam pembacaan di ibadah Kristen, namun sebelum memasuki pembacaan
umum kitab Kidung Agung perlu dipelajari secara khusus untuk menghindari kesalahpahaman
makna teologis dalam setiap kata dan kalimat yang bernuansa erotik.
Kata kunci: kitab kidung agung; erotik; pembacaan; teologi
Volume 2, Nomor 1, Mei 2022
Available Online at:
https://ejournal.iaknpky.ac.id/index.php/pambelum
ISSN: 2797-684X (e); 2797-6858 (p)