Studi Perencanaan Desain Sambungan Balok-Kolom Dengan Sistem Pracetak Pada Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang Gita Yusuf Rahmadhan, M. Taufik Hidayat, Christin Remayanti N Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia E-mail: gitarahmadhan053@gmail.com ABSTRAK Banyaknya gedung – gedung yang dibangun membuat lahan yang tersedia semakin lama semakin sempit. Oleh karena itu, banyak daerah yang mulai membangun gedung – gedung bertingkat untuk mengatasi kekurangan lahan yang tersedia. Pembangunan gedung bertingkat saat ini sebagian besar menggunakan dua metode, yaitu dengan metode beton bertulang konvensional dengan menggunakan bekisting yang dicor di tempat dan menggunakan metode beton bertulang pracetak yang dibuat di pabrik atau di lokasi proyek kemudian dirakit. Konsep pembangunan gedung tahan gempa mengacu ke dalam SNI 03- 2847-2002 dan SNI 03-1726-2002 sehingga acuan kedua peraturan tersebut akan didapatkan struktur yang tahan gempa, efektif, dan efisien. Studi ini merupakan perhitungan gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang dengan zona gempa 4. Dari hasil studi didapatkan bahwa dimensi balok induk berukuran 40 cm x 60 cm dengan tulangan lentur digunakan D19 dan tulangan geser 10. Untuk struktur kolom lantai 1 hingga lantai 4 berukuran 80cm x 100 cm dengan menggunakan tulangan lentur D29 dan tulangan geser 10 dan lantai 5 hingga lantai 8 menggunakan dimensi 70 cm x 90 cm dengan menggunakan tulangan lentur D29 dan tulangan geser 10. Panjang penyaluran balok – kolom yang digunakan tidak boleh kurang dari 668,16 mm Ukuran kolom dan balok berukuran cukup besar karena struktur diasumsi tidak menggunakan dinding geser. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, pembangunan di wilayah Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Banyaknya gedung – gedung yang dibangun membuat lahan yang tersedia semakin lama semakin sempit. Oleh karena itu, banyak daerah yang mulai membangun gedung – gedung bertingkat untuk mengatasi kekurangan lahan yang tersedia. Pembangunan gedung bertingkat saat ini sebagian besar menggunakan dua metode, yaitu dengan metode beton bertulang konvensional dengan menggunakan bekisting yang dicor di tempat dan menggunakan metode beton bertulang pracetak yang dibuat di pabrik atau di lokasi proyek kemudian dirakit. Keunggulan dari penggunaan metode beton bertulang pracetak dengan metode beton bertulang konvensional adalah waktu pengerjaan yang lebih cepat, mudah dalam pelaksanaan, penghematan lahan, dan ekonomis dalam pemakaian bahan dan tenaga kerja. Oleh karena itu, saat ini sistem pemakaian beton bertulang pracetak telah banyak digunakan di luar negeri. Walaupun di Indonesia sudah dipakai tetapi dalam tahap penggunaan yang sedikit. Dengan mengacu kepada SNI 03- 1726-2002 tentang konsep pembangunan rumah tahan gempa dan SNI 03-2847-2002 tentang tata cara perhitungan struktur beton sehingga akan didapatkan struktur yang tahan gempa dan efisien. Tujuan dari pembahasan tugas akhir ini adalah: