Sefanadia Putri Arie Nugroho Karakteristik Kue Tradisional Khas Lampung (Babon) Tersubstitusi Mosep Red Flour dan Tepung Tempe 44 KARAKTERISTIK KUE TRADISIONAL KHAS LAMPUNG (BABON) TERSUBSTITUSI MOSEP RED FLOUR DAN TEPUNG TEMPE CHARACTERIZATION OF TRADITIONAL CAKE FROM LAMPUNG (BABON) SUBSTITUTED MOSEP RED FLOUR AND TEMPEH FLOUR Sefanadia Putri 1 , Arie Nugroho 1 1 Jurusan Gizi, Poltekkes Tanjungkarang Kemenkes RI Jl. Soekarno Hatta No 6 Bandar Lampung, Lampung Correspondence: HP 081272861700, email: sefanadia@poltekkes-tjk.ac.id Diterima: 15 April 2021; Direvisi: 16 April 2021 – 24 Juni 2021; Disetujui: 27 Juni 2021 Abstrak Pengembangan kue babon yang merupakan salah satu makanan khas Lampung dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber pangan lokal yang ada. Penelitian ini bertujuan mengkaji sifat organoleptik dan kandungan gizi kue tradisional khas lampung (babon) tersubstitusi mosep red flour dan tepung tempe. Desain penelitian menggunakan metode RAL yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari perbedaan komposisi dasar kue babon yang terdiri dari tapioka: mosep red flour (HKI no 000179513): tepung tempe. Perbandingan perlakuan yaitu K1 (100 : 0 : 0), K2 (60 : 20 : 20), K3 (50 : 25 : 25), K4 (40 : 30 : 30), K5 (30 : 35 : 35). Data hasil pengamatan untuk uji organoleptik, kandungan gizi dan energi dianalisis dengan Analisys of Variance (Anova) dan dilanjutkan dengan uji (DMRT). Hasil penelitian menunjukan bahwa kue babon terbaik dan paling disukai panelis didapat pada formulasi K2 dengan perbandingan tapioka: tepung ubi jalar merah termodifikasi: tepung tempe = 60 : 20 : 20. Kue babon terbaik memiliki kandungan gizi air 6,82%, abu 1,23 %, protein 6,18%, lemak 17,02%, serat kasar 1,07% serta karbohidrat 67,66%. Nilai energi yang dihasilkan pada berbagai jenis kue babon termodifikasi berkisar 430,35 – 524,3 kkal/100g. Kata kunci: kue babon, mosep red flour, tepung tempe. Abstract Development of Babon cake can be using local food sources. This research will study the organoleptics and nutrition of traditional Lampung cake (baboon) substituted mosep red flour and tempeh flour. The method was a completely randomized design (CRD) with five treatments and five replications. The treatments for baboon cake by comparison (tapioca : tempeh flour, sweet potato flour modification) : K1 (100%), K2 (60% : 20% : 20%), K3 (50% : 25% : 25%), K4 (40% : 30% : 30%) and K5 (30% : 35% : 35%). Analysis data were using Anova and countinued DMRT analysis. The best baboon cakes were obtained in K2 formulation 60: 20: 20.The best baboon cakes had a nutrient content of water 6.82%, ash 1.23%, protein 6.18%, 17.02% fat, 1.07% crude fiber and 67.66% carbohydrates. The energy values in various types of modified baboon cakes ranged from 430.35 - 524.3 kcal / 100g. Keywords: Baboon cake, mosep red flour, tempeh flour. PENDAHULUAN Setiap daerah Provinsi di Negara Indonesia memiliki ciri khas kue tradisional yang belum banyak populer di kalangan masyarakat. Jenis –jenis kue tradisional di Indonesia sangatlah beragam sesuai dengan bahan baku dari pembuatan kue. Salah satu makanan tradisional khas lampung sejenis kue kering yang belum populer dikalangan masyakat adalah kue babon. Kue babon pada umumnya dibuat dengan menggunakan bahan dasar tapioka. Kue babon didaerah lain dikenal dengan nama kue bangkit. Pengembangan kue babon dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber pangan lokal yang ada. Kue babon dapat dijadikan sebagai pangan fungsional apabila memiliki sifat brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Ejournal of industrial system portal (Kementerian Perindustrian)