PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA 233 POTENSI PENCEMARAN AIRTANAH DI DAERAH SUB-URBAN KABUPATEN BANDUNGBAGIAN SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE LEGRAND Rizka Maria * Anna F.R Wilda N Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI *rizka_maria@yahoo.com ABSTRAK Kabupaten Bandung bagian selatan secara fisik telah berkembang menjadi daerah sub-urban dengan aktivitas yang kompleks. Salah satu dampak aktifitas masyarakat adalah peningkatan limbah domestik yang dihasilkan. Kondisi ini menyebabkan wilayah ini menjadi rentan terhadap pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pencemaran airtanah. Metode yang digunakan adalah metode Le Grand yang di validasi dengan hasil kualitas air. Berdasarkan hasil analisis potensi pencemaran airtanah didapatkan menunjukkan bahwa daerah ini memiliki kelas lahan tergolong peringkat buruk, dengan kondisi sanitasi yang kurang memadai. Peringkat situasi tapaknya mempunyai nilai +8 yang berarti bahwa sangat mungkin terjadi pencemaran airtanah, dengan tingkat penerimaan hampir pasti tidak dapat diterima. Setelah divalidasi dengan hasil kualitas air manujukkan bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung bagian selatan telah tercemar nitrat nitrit dan amonia. Daerah penelitian sangat rentan terhadap pencemaran airtanah yang menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kondisi sanitasi dan lingkungannya. Kata kunci :kerentanan,pencemaran, airtanah, Le Grand 1. Pendahuluan Air merupakan sumberdaya alam yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Namun airtanah memiliki kelemahan yaitu jika terjadi pencemaran di dalam airtanah tersebut maka akan sulit dilakukan pemulihan kualitasnya.Zat pencemar (pollutant) dapat didefinisikan sebagai zat kimia (cair, padat, maupun gas), baik yang berasal dari alam yang kehadirannya dipicu oleh manusia (tidak langsung) maupun dari kegiatan manusia ( antropogenic origin) yang telah diidentifikasi mengakibatkan efek yang buruk bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Semua itu dipicu oleh aktivitas manusia, sedangkan kontaminan, sama seperti zat pencemar, hanya saja efek negatif atau dampaknya secara nyataterhadap manusia dan lingkungannya belum teridentifikasi secara jelas (Notodarmojo, 2005). Sudarmadji (1995), menyatakan bahwa sebagai lapisan pembawa air, akuifer menentukan tingkat penyebaran pencemar. Akuifer dengan permeabilitas tinggi memungkinkan pencemar untuk menyebarkan dengan cepat dan jauh. Gradien muka airtanah berpengaruh terhadap kecepatan aliran airtanah. Dengan demikian, berpengaruh terhadap gerak dan penyebaran airtanah yang terdapat didalamnya. Makin besar gradien muka airtanah maka akan semakin besar kemungkinan pencemar didalamnya menyebar lebih cepat dan lebih jauh. Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah jarak horisontal dengan sumber pencemar. Semakin dekat jarak antara sumur dengan sumber pencemar, semakin besar kemungkinan airtanah dalam sumur mengalami pencemaran. Pencemaran merupakan masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan komponen lain kedalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tersebut tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya (PP No.82, tahun 2001). Kualitas airtanah dipengaruhi oleh ada atau tidaknya zat pencemar