PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal. 36-40 ISSN : 2337-8204 36 IDENTI FIKASI STRUKTUR LAPISAN TANAH GAMBUT SEBAGAI INFORMASI AWAL RANCANG BANGUNAN DENGAN METODE GEOLISTRIK 3D Firmansyah Sirait 1) , Andi Ihwan 1)* 1) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura *Email : andihwan@physics.untan.ac.id Abstrak Penelitian pendugaan ketebalan tanah gambut di Jalan Amali Kecamatan Pontianak Tenggara telah dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik konfigurasi Wenner-Schlumberger. Pengambilan data dilakukan sebanyak lima lintasan dengan panjang tiap lintasan 60 meter dan spasi antar elektroda 5 (lima) meter. Nilai resistivitas semu yang diukur kemudian diolah menggunakan perangkat lunak Res2Dinv untuk proses pendugaan struktur bawah permukaan secara dua dimensi (2D) dan Res3Dinv untuk profil tiga dimensi (3D). Hasil pencitraan 2D menunjukkan ketebalan maksimum tanah gambut untuk masing-masing lintasan mulai dari lintasan 1 hingga lintasan 5 secara berurutan adalah 3,00; 7,00; 6,00; 2,00 dan 9 meter dengan tingkat kesalahan hampiran 6 - 17 %. Pada pencitraan tiga dimensi (3D) terlihat lapisan tanah gambut terdistribusi hingga kedalaman 8,68 m pada bagian utara dan barat daerah pengukuran dengan tingkat kesalahan hampiran 10,8 %. Kata Kunci : geolistrik, resistivitas, ketebalan gambut. 1. Latar Belakang Jenis tanah gambut yang terdapat di Kota Pontianak terdiri dari tanah Organosol , Gl ey, Humus dan Aluvial dengan karakteristik masing-masing berbeda satu dengan yang lainnya. Dari berbagai jenis tanah gambut tersebut, jenis yang memiliki proporsi luas area terbesar dimiliki jenis organosol yang menempati 51,42 % dari total wilayah kota. Bagian terluas terdapat di kecamatan Pontianak Utara yaitu seluas 3.047Ha (Dinas Urusan Pangan Kota Pontianak, 2001) . Sebagi an wilayah yang mengandung tanah gambut tersebut direncanakan akan dijadikan sebagai tempat pembangunan gedung ataupun perumahan. Dilihat dari sisi daya dukung konstruksi bangunan, terdapatnya tanah gambut pada suatu lahan konstruksi akan menjadi kendala yang cukup serius. Hal ini disebabkan karena tanah gambut memiliki sifat yang sangat compr essi bl e, yaitu lapisannya memiliki potensi untuk mengalami settlement atau penurunan. Pada wilayah-wilayah tertentu di Kota Pontianak, ketebalan tanah gambut dapat mencapai 1(satu) hingga 6(enam) meter. Angka tersebut masuk dalam kategori kurang baik apabila diperuntukkan bagi pendirian bangunan berskala besar maupun lahan pertanian (Pokja Sanitasi Kota Pontianak, 2010). Untuk mengatasi hal tersebut di atas, informasi tambahan terkait struktur bawah permukaan sangat diperlukan. Ketepatan peletakan landasan/ pondasi pada ar ea bergambut merupakan salah satu solusi dari permasalahan r ancang bangun pondasi bangunan. Informasi struktur tanah bergambut , tersebut dapat diperoleh melalui beberapa alat bantu. Sebuah peta geologi daerah penelitian dapat dijadikan sebagai informasi aw al keberadaan tanah gambut beserta formasi batuan yang menaunginya. Namun, informasi ini harus dikorelasikan dengan informasi lain agar akurasi informasi yang diinginkan dapat dipenuhi. Penggunaan metode geofisika akhir-akhir ini telah dijadikan sebagai sebuah syarat bagi kelayakan sebuah studi struktur perlapisan bawah permukaan. Metode geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu dari beberapa metode geofisika yang efektif untuk mengetahui struktur bawah permukaan. Nilai tahanan jenis yang tercatat yang merupakan hasil pengukuran menggunakan alat geolistrik tahanan jenis dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan sebuah gambaran struktur bawah permukaan lokasi penelitian. Pada penelitian ini, metode geofisika tahanan jenis digunakan untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan. Pemetaan secara 3D dilakukan dengan menggunakan konfigurasi Wenner Schlumberger. Informasi awal struktur perlapisan bawah permukaan diperoleh dari peta geologi wilayah Nangataman, Kalimantan Barat (Sanyoto dan Pieters, 1993) Berdasarkan data tersebut, kota Pontianak didominasi oleh lumpur, kerikil, pasir dan sisa-sisa tumbuhan. Analisa lebih lanjut menunjukkan keberadaan tanah gambut mencapai kedalaman 50 meter. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai struktur bawah permukaan dan menjadi acuan aw al dalam perancangan pembangunan.