JURNAL TEOLOGI DAN PENGEMBANGAN PELAYANAN SHIFTKEY 2018 16 EFEKTIFITAS KEPEMIMPINAN YANG MEMBERDAYAKAN DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN GEREJA DI GEREJA JEMAAT KRISTEN INDONESIA MARANATHA UNGARAN Dr. Gidion, M.Th (Dosen prodi Teologi Kependetaan: gideon_JOSILA@yahoo.com) Abstract Moses was a good leader, but he was the de facto who made Israel not move as fast as he wanted. He does not create a work culture that encourages strong movements by empowering his followers. He became the center of his community dynamics. As a result, the strength of the community is determined by its own strength, while the potential of others that God places around it, is neglected (Ex. 18: 17-18). But after Moses empowered, work was easier and more effective (Ex. 18: 21-23). Leaders who work hard on their own and do not do empowerment will slow the pace of developing organizations. The JKI Church of Marantha Ungaran has actually implemented an empowering leadership pattern, but it is not yet maximal. Therefore this study aims to find out how much empowering leadership effectiveness is in improving church growth in JKI Maranatha Uangaran. A. PENDAHULUAN Seorang pemimpin harus mempunyai kepribadian mengembangkan potensi orang lain. 1 Seorang pemimpin tidak hanya menggunakan otoritasnya untuk mengatur dan mempengaruhi orang lain, tetapi juga menggunakan otoritasnya untuk memberdayakan. Kata “memberdayakan merupakan terjemahan dari kata “empower”. Menurut kamus Webster dan Oxford English Dictionary, kata “empower” mengandung duaa rti, yaitu“to give power or authority to” yang dapat diartikan sebagai memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatanatan umendelegasikan otoritas ke pihak lain, dan “to give ability to or anable” yang artinya upaya untuk member kemampuan atau kedayaan. 2 Kepemimpinan yang memberdayakan ialah kemampuan mengeksplorasi secara optimal potensinya sebagai seorang pemimpi yang memiliki komitmen serta mengarahkan orang yang dipimpinnya dengan visi yang jelas serta memiliki kemampuan untuk memahami kebutuhan yang dipimpin. Kepemimpinan yang memberdayakan mempunyai kemampunan serta kesiapan menerima perbedaan dan mentranformasi perbedaan tersebut menjadi kekayaan yang berpotensial. Pemberdayaan adalah usaha untuk membuat manusia menjadi berdaya, memiliki kekuatan untuk dapat melakukan sesuatu dan lebih jauh lagi untuk mengungkapkan aneka potensi yang ada dalam diri mereka. Peranan kepemimpinan yang memberdayakan mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap pertumbuhan Gereja, Karena gereja yang bertumbuh secara efektif membutuhkan para pemimpin yang banyak dan bergerak secara bersama-sama untuk membangun Gereja menuju gereja yang bertumbuh. Pertumbuhan Gereja menurut C.A. Schwarz menekankan Proses pertumbuhan gereja secara amamiah. Menggunakan potensi yang ada merupakan rahasia dari pertumbuhan gereja. 3 Berdasarkan hasil penelitiannya pada sekitar 8000 Gereja mengatakan, 1 John C. Maxwell dan Jim Dornan, Becoming a person of influence, (Jakarta: Harvest Publication House, 2007), 4-5. 2 Agus Sachari, Budaya Visual Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 2007), 36-37. 3 Pdt. Dr, Rijnardus A. van Kooij, dkk, Menguak Fakta, menata karya nyata, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 23.