Resensi sumber daya perikanan zona ekoton ekosistem mangrove-lamun ….. Kalor dan Paiki, 2021 36 Resensi Sumber Daya Perikanan Zona Ekoton Ekosistem Mangrove-Lamun Di Teluk Youtefa Kota Jayapura Provinsi Papua John Dominggus Kalor 1,3 * dan Kalvin Paiki 2,3 1 Program Studi Ilmu Kelautan, Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan, FMIPA Universitas Cenderawasih 2 Program Studi Ilmu Perikanan, Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan, FMIPA Universitas Cenderawasih 3 Pusat Studi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, Universitas Cenderawasih *e-mail korespondensi: john_pela@yahoo.com INFORMASI ARTIKEL A B S T R A C T Diterima Disetujui Terbit Online : 12 Agustus 2021 : 28 Agustus 2021 : 31 Agustus 2021 Mangrove and seagrass ecosystems have important functions and roles in coastal and marine waters, as an ecological buffer system, habitat for various types of fish and aquatic biota, as well as a biosystem of energy flow for the aquatic environment in Youtefa Bay, Jayapura. This study was conducted to calculate and review the mangrove and seagrass ecosystem fisheries affected by ecosystem damage and pollution. Data collection using fishing methods, vertical plankton sampling, and measurement of water quality parameters. Analysis of the data used: (1) analysis of the level of diversity using the Shannon-Wiener index, (2) analysis of dominance, (3) analysis of species composition (4) analysis of fish abundance, and (5) descriptive analysis. This study succeeded in obtaining 99 fish samples from 11 families and 12 fish species. The level of diversity is moderate (2.21) and the abundance of species is 73 individuals/ha. There were 5 dominant fish species associated with the ecotone zone of mangrove and seagrass ecosystems, namely Valamungil buchanani, Chanos- chanos, Gerres oyena, Pempheris schwenkii, and Pentapodus aureofasciatus. More fish were found in the seagrass and coral reef ecotone zones, namely 180 fish individuals caught from 11 families and 17 species of fish, with a high level of diversity (2.77), an abundance of species as many as 150 individuals/ha, and no dominant species. The review study of fishery resources in the ecotone zone shows very rapid degradation and decline in diversity, composition, and abundance in the waters of the mangrove, seagrass, and reef ecosystems of Youtefa Bay, Jayapura. Copyright © 2021 Universitas Cenderawasih Key Words: Fisheries Mangroves Seagrass Youtefa Bay Jayapura PENDAHULUAN Ekosistem mangrove dan ekosistem lamun berfungsi dan berperan penting pada perairan pesisir dan laut, sebagai suatu sistem penyangga ekologi, habitat bagi berbagai jenis ikan dan biota perairan, serta biosistem aliran energi lingkungan perairan pesisir (Kathiresan and Bingham, 2001). Kedua ekosistem ini juga berperan sebagai penahan sedimen, pelindung pantai untuk mengurangi dan memperlambat pergerakan gelombang, sebagai tempat terjadinya siklus nutrien dan fungsinya sebagai penyerap karbon di lautan (Kathiresan and Bingham, 2001). Fungsi dan peranan ekosistem mangrove dan ekosistem lamun di teluk Youtefa sekarang ini semantara mengalami degradasi, dimana tingkat kerusakan lingkungan sangat tinggi, dan luas area yang telah hilang telah melebihi 50% (Kalor dan Paiki, 2021). Beberapa penelitian melaporkan bahwa dampak pengembangan industri, wisata, pembangunan infrastruktur, dan konversi hutan mangrove serta pencemaran telah menyebabkan kerusakan lingkungan di Teluk Youtefa (Manalu et al., 2011; Handono et al., 2014; Kalor et al., 2018; Hamuna et al., 2018; Kalor dan Paiki, 2021). Kerusakan lingkungan ini sangat berdampak pada sumber daya perikanan dan pada masyarakat yang hidup empat kampung adat di Teluk Youtefa (Kalor et al., 2021). Secara geografis dan ekologi posisi ekosistem lamun dan ekosistem mangrove bertumpang-tindih, berimpitan, dan membentuk zona ekoton. Zona ini sangat penting secara biologi dan ekologi bioata perairan serta berpengaruh pada tingkat keanekaragaman, komposisi spesies, dan kelimpahan spesies ikan pada kedua ekosistem tersebut. Ekosistem mangrove dan ekositem lamun memiliki peran yang sangat penting terhadap keberlanjutan sumber daya perikanan, sehingga bila terjadi kerusakan pada kedua ekosistem ini maka sumber daya perikanan pada kawasan yang lebih luas akan terancam. Oleh karena itu, perlu A C R O P O R A P-ISSN: 2622-5476 Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua E-ISSN: 2685-1865 Vol. 4, No. 1, Hal. 36-40 DOI: 10.31957/acr.v4i1.1762 Juli 2021 http://ejournal.uncen.ac.id/index.php/ACR