Inovasi Teknik Kimia. Vol. 6, No.2, Oktober 2021, Hal 81-84 ISSN 2527-614X, e-ISSN 2541-5891 Fakultas Teknik-UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 81 PENGARUH LAJU ALIR ABSORBEN DAN WAKTU KONTAK K 2 CO 3 TERHADAP PENYERAPAN CO 2 YANG TERKANDUNG DALAM GAS ALAM Muhrinsyah Fatimura * ,Rully Masriatini * , Reno Fitriyanti * Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas PGRI Palembang Jl. Jend A.Yani Lrg Gotong Royong 9/10 Ulu Palembang * Email: m.fatimura@univpgri-palembang.ac.id Abstrak Gas CO 2 atau gas asam (sour gas) merupakan salah satu kandungan dari gas alam yang sifatnya sebagai kontaminan. Adanya kandungan gas CO 2 yang tinggi didalam gas alam perlu dilakukan treatment khusus dalam menghilangan kandungan gas asam (sour gas) tersebut dari gas alam dimana proses penghilangan gas asam dari gas alam disebut proses Sweetening. Proses Absorspi gas CO 2 merupakan metode yang sering dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh laju alir absorben dan waktu kontak terhadap konsentrasi CO 2 yang di serap. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan perancangan alat yang bisa menunujukan proses absorpsi CO 2. Variabel penelitian yang digunakan memvariasikan laju alir absorben 4,95 ml/s, 7,26 ml/s, 10,75 ml/s serta waktu kontak 2,4,6,8 menit dengan menggunakan absorben K 2 CO 3 dan Gas alam yang digunakan compress Natural Gas CNG. Dari hasil penelitan laju alir Absorben yang paling baik didapat pada 10,75 ml/s dengan penyerapan CO 2 sebesar 69,45 %. Waktu kontak pada setiap waktu tidak berpengaruh banyak terhadap konsentarsi CO 2 yang terserap . Kata kunci: absorben, Sour gas, gas alam, laju alir Abstract CO 2 gas or acid gas (sour gas) is one of the contents of natural gas which is a contaminant. The presence of high CO 2 gas content in natural gas requires special treatment to remove the sour gas content from natural gas where the process of removing acid gas from natural gas is called the Sweetening process. The CO 2 gas absorption process is a method that is often used. This study aims to determine the effect of absorbent flow rate and contact time on the absorbed CO 2 concentration. The method used in this research is to design a tool that can show the CO 2 absorption process. The research variables used varied the absorbent flow rate of 4.95 ml/s, 7.26 ml/s, 10.75 ml/s and a contact time of 2,4,6,8 minutes using K 2 CO 3 absorbent and natural gas used compressed Natural CNG gas. From the research results, the best absorbent flow rate was obtained at 10.75 ml/s with CO 2 absorption of 69.45%. Contact time at any time did not have much effect on the concentration of CO 2 absorbed. Keywords: absorbent, sour gas, natural gas, flow rate 1. PENDAHULUAN Pada industri berbasis petrokimia yang menggunakan gas alam sebagai bahan baku, proses pemisahan CO 2 yang terdapat dalam gas alam merupakan hal yang sangat penting dilakukan. Seperti pada pabrik pembuatan amoniak dan metanol, gas alam merupakan bahan baku pembuatan kedua produk tersebut. Gas CO 2 yang terkandung didalam gas alam sering dinamakan gas asam (acid gas). Adanya kandungan uap air dalam gas alam membuat CO 2 akan berubah menjadi H 2 CO 3 yang akan membuatnya semakin korosif (Swandi, Hadriyati dan Sanuddin, 2020). Disamping itu gas CO 2 dapat mengurangi nilai bakar (heating value) dari gas alam dan pada kilang Liquefied natural gas (LNG), CO 2 harus dipisahkan pada proses pembuatan LNG untuk mencegah terjadinya freezing CO 2 tersebut pada tahap pemurnian LNG menggunakan proses Cryogenic (pendinginan) . Saat pencairan gas alam pada suhu -161,6C, gas CO 2 akan memadat/membeku sehingga apabila ada gas CO 2 yang lolos akan menyebabkan terjadinya penyumbatan pada tubing-tubing heat exchanger sewaktu proses cryogenic. Pada pabrik amoniak gas CO 2 dipisahkan karena akan meracuni katalis di reaktor amoniak dan akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pada pabrik urea (Fatimura dan Fitriyanti, 2018). Beberapa penelitian yang dilakukan untuk mereduksi kadar CO 2 dalam gas alam tersebut dengan cara absorpsi menggunakan solvent yang dapat digunakan untuk menyerap gas CO 2 (Srihari dan Priambodo Rickyl; boyatzis, 2019).