JIUBJ Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 21(2), Juli 2021, 846-852 Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat universitas Batanghari Jambi ISSN 1411-8939 (Online), ISSN 2549-4236 (Print) DOI 10.33087/jiubj.v21i2.1571 846 Pengaruh Persepsi Anggota, Kepercayaan Nasabah dan Anggaran Partisipatif terhadap Kinerja Manajerial Melalui Kepuasan Kerja Pada Baitul Maal Wat Tamwil “X” Kota Padang Yenni Del Rosa*, Muhammad Abdilla Universitas Dharma Andalas *Correspondence email: yennidelrosa62@gmail.com, m.abdilla@yahoo.co.id Abstract. This study aims to determine the effect of member perceptions, customer trust and participatory budgets on managerial performance through moderating job satisfaction in Baitul Maal wat Tamwil (BMT) "X" Padang city. This type of research includes quantitative types in the form of primary data collected by questionnaire, population and 25 research samples were taken using the census method Data analysis techniques used Structural Equations Model (path analysis) The results showed that managerial performance was explained directly by member perceptions, customer trust and participatory budgets through job satisfaction in BMT "X" cities The perception of members moderates the relationship of job satisfaction with managerial performance in BMT "X" Padang city. Customer trust does not moderate the relationship of job satisfaction with managerial performance in BMT "X" Padang city. Participatory budgets do not moderate the relationship of job satisfaction with managerial performance in BMT " X "Padang city. Keywords: member perceptions; customer trust; participatory budgeting; job satisfaction and managerial performance PENDAHULUAN Baitul Maal wat Tamwil (BMT) sebagai Lembaga Keuangan Mikro (LKM) melakukan kegiatan penyediaan jasa keuangan bagi pengusaha kecil dan mikro untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak terlayani oleh lembaga keuangan formal berorientasi untuk tujuan bisnis. Menurut (Buchori, 2003) LKM menyediakan jasa keuangan mikro dengan tujuan utama untuk pengembangan masyarakat (Buchori, 2003). Pemberian pinjaman untuk usaha kecil dan mikro mempunyai tujuan utama sbb: 1) Menciptakan lapangan kerja melalui penciptaan dan pengembangan usaha mikro, 2) Meningkatkan produktivitas dan pendapatan kelompok yang rentan terutama perempuan dan orang miskin, 3) Mengurangi ketergantungan masyarakat pedesaan terhadap panen yang beresiko gagal karena musim kemarau melalui diversifikasi kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan (World Bank, 2000). Bank Indonesia sudah meluncurkan program akses financial inclucion tahun 2010 untuk mengentaskan kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi (Soetanto dan Joko, 2012). Salah satu model LKM yang berkembang relatif di Indonesia adalah Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) prinsipnya hampir sama dengan LKM konvensional. Namun terdapat beberapa perbedaan dalam hal akad dan transaksi yakni persepsi yang tidak memperkenankan adanya bunga bank dan boleh bagi hasil dalam Islam yang mempengaruhi masyarakat menggunakan jasa bank syariah (Rahmayanty, 2014). Kegiatan LKMS meliputi jual beli, simpanan wadiah, mudharabah, musyarakah, zakat dan jasa lainnya (Hertanto, 1999). Baitul Maal wat Tamwil (BMT) berasal dari penggabungan lembaga baitul maal dan baitul tamwil. Peran LKM mendukung fungsi intermediasi dengan UMKM sehingga BMT harus memiliki kinerja yang baik secara kelembagaan agar peran BMT sebagai lembaga pendukung intermediasi perbankan dapat tercapai dengan baik (Euis, 2009). Kenyataannya perkembangan BMT sejauh ini dipandang belum sepenuhnya mampu menjawab permasalahan ekonomi yang ada di kalangan masyarakat karena masalah rendahnya persepsi anggota, kurangnya kepercayaan masyarakat serta terbatasnya keikutsertaan pimpinan dan keanggotaan BMT dalam menyusun alokasi anggaran operasional (anggaran partisipatif) sehingga kepuasan kerja relatif rendah mengakibatkan rendahnya kinerja manajerial pimpinan BMT. Terdapat dua aspek yang yang sering dijadikan acuan dalam mengukur kinerja keuangan BMT yaitu keterjangkauan dan keberlanjutan. Keterjangkauan memberikan indikator bahwa layanan yang diberikan BMT berdasarkan jumlah nasabah dan kantor cabang. Keberlanjutan membuktikan bahwa BMT mampu bertahan dengan kemandirian dalam menghimpun dana masyarakat tanpa bergantung kepada lembaga donor asing atau proyek bantuan pemerintah yang sifatnya sesaat (hibah). BMT sebagai salah satu LKM harus memberikan pelayanan yang dilakukan secara terus menerus tanpa henti berdasarkan kepercayaan nasabah (Andyan, 2021). Suitainabilitas BMT dapat dilihat dari aspek sustainabilitas lembaga dan suitainabilitas keuangan. Sustainabilitas lembaga adalah kemampuan BMT untuk beroperasi secara berkelanjutan didukung oleh faktor keberhasilan dalam mengimplementasikan cost effectiveness sebagai kunsi utama kegiatan usahanya