Jurnal Kajian Manajemen dan Wirausaha
Volume 2 Nomor 4 2020
e-ISSN: 2655-6499
DOI: http://dx.doi.org/10.24036/jkmw02100330
Pengaruh financial literacy dan financial inclusion terhadap kinerja
UMKM
Tri Nova Ningsih
1
, Abel Tasman
1*
1
Manajemen, Universitas Negeri Padang, Padang, Indonesia
Abstract
This study aims to test and empirically prove the effect of financial literacy, financial inclusion, and internal locus of
control on the performance of MSMEs (micro, small, and medium enterprise) in Padang City. The object of this study
is the MSMEs in the city of Padang. The number of samples is 399 respondents of MSME business operators, the
sample selection uses random sampling, hypothesis testing is done by using multiple regression analysis and tested
using the SPSS version 20.0 application. The results of the study indicate that financial literacy, financial inclusion,
and internal locus of control have a positive and significant effect on MSME performance.
Keywords: Kinerja UMKM, financial literacy, financial inclusion
How to cite: Ningsih, T. N & Tasman, A. (2020). Pengaruh financial literacy dan financial inclusion terhadap kinerja UMKM. Jurnal Kajian Manajemen dan
Wirausaha, 2(4), 151-160. DOI: http://dx.doi.org/10.24036/jkmw02100330
This is an open access article distributed under the Creative Commons 4.0 Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium,
provided the original work is properly cited. ©2020 by author.
*Correspondent author: abelltasman@gmail.com
Pendahuluan
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) telah lama dipahami memiliki peran signifikan bagi pembangunan
ekonomi suatu negara. Secara spesifik, keberadaan UMKM dipercaya akan mampu berkontribusi terhadap upaya
pengentasan kemiskinan melalui penciptaan lapangan pekerjaan (Audretsch, et al, 2009). Di Indonesia Usaha
Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sangatlah berperan penting bagi laju perekonomian sebagai salah satu cara
untuk mempercepat pembangunan daerah. Sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, UMKM
merupakan salah satu sektor yang memiliki peranan cukup penting dalam penyerapan tenaga kerja. Selain itu
juga UMKM dikenal memiliki daya tahan yang tinggi terhadap gejolak ekonomi. Menurut data Badan Pusat
Statistik (BPS) pasca adanya krisis ekonomi yang ada di Indonesia pada tahun 1998, jumlah UMKM tidak
berkurang, justru semakin meningkat sampai sekarang. Pada tahun 2012 UMKM menyumbang 56% dari total
PDB Indonesia yang mana telah dilakukan survei oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyebutkan
kontribusi sektor UMKM di Indonesia terbukti sangat signifikan bagi perekonomian nasional dengan
menyumbang 60% Produk Domestik Bruto dan menyerap 97% tenaga kerja nasional (Siaran Pers OJK:
SP38/DKNS/OJK/5/2016).
UMKM memberikan kesempatan kerja bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan untuk kemudian
mendirikan usaha. Hal inilah yang memicu lahirnya para pengusaha-pengusaha khususnya di Sumatera Barat
yang memiliki kemauan kuat untuk memiliki penghasilan sendiri dengan berwirausaha. Tabel 1 memperlihatkan
jumlah UMKM yang ada di wilayah Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2017.
Berdasarkan Tabel 1 jumlah UMKM di Sumatera Barat yang paling banyak berada di kota Padang yakni
sebanyak 89.699 diantara daerah – daerah lainnya di Sumatera Barat. Banyaknya jumlah UMKM di kota Padang
disebabkan salah satunya karena Padang merupakan ibukota provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak
diantara kabupaten/kota di Sumatera Barat. Selain itu sebagian mata pencarian penduduk di kota Padang
merupakan pelaku usaha. Berikut data jumlah UMKM di Kota Padang tahun 2017.
Untuk keberlangsungan kegiatan usahanya, UMKM harus memikirkan cara atau langkah-langkah yang tepat
demi keberhasilan usaha yang dijalani. Tidak dipungkiri, UMKM sering mengalami keterlambatan dalam
pengembangannya. Hal ini dikarenakan berbagai masalah konvensional yang tidak terselesaikan secara tuntas,
seperti masalah kapasitas SDM, kepemilikan, pembiayaan, pemasaran dan berbagai masalah lain yang berkaitan
dengan pengelolaan usaha, sehingga UMKM sulit bersaing dengan perusahaan perusahaan besar (Quartey et al.
2017).