1 Desain dan Implementasi Jejaring Sosial pada Virtual Museum of Indonesia (Studi Kasus Museum Geologi) Sajarwo Anggai 1 , Pranoto Hidaya Rusmin 2 , Ary Setijadi Prihatmanto 3 Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesha No. 10, Bandung 40132, Indonesia 1 sajarwo@seamolec.org 2 pranoto@stei.itb.ac.id 3 asetijadi@stei.itb.ac.id AbstractPendidikan dan peradaban manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan tidak hanya diperoleh dari lembaga pendidikan formal tetapi juga dari lembaga pendidikan nonformal. Peradaban sendiri merupakan cermin dari kebudayaan dan tingkat pencapaian masyarakat yang sangat kompleks. Salah satu lembaga yang dapat digunakan sebagai tempat pembelajaran peradaban manusia adalah museum. Hingga saat ini, di Indonesia terdapat 281 museum. Namun, beberapa masalah yang sering kali menghambat tercapainya fungsi museum di Indonesia antara lain sumber informasi yang terbatas, informasi yang belum terintegrasi, minimnya komunikasi antar pengunjung museum, koleksi museum dapat hilang atau rusak, dan peragaan koleksi yang belum interaktif. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu mengembangkan aplikasi Virtual Museum of Indonesia. Studi kasus pada penelitian ini adalah Museum Geologi, Bandung. Penelitian ini dititikberatkan pada pengembangan jejaring sosial untuk membangun komunitas belajar dan diintegrasikan dengan Facebook untuk mengkampanyekan keberadaan dan koleksi yang terdapat di Museum Geologi. Virtual Museum of Indonesia yang dibuat dapat digunakan untuk mendiskusikan dan berbagi pengalaman kepada sesama pencinta geologi, mengkampanyekan keberadaan koleksi, dan meningkatkan minat pengunjung untuk mendaftar melalui jejaring sosial. Kata kunci: nonformal, interaktif, virtual museum, geologi, jejaring sosial, Facebook. I. PENDAHULUAN Pendidikan dan peradaban manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan tidak hanya diperoleh dari lembaga pendidikan formal tetapi juga dari lembaga pendidikan nonformal. Peradaban sendiri merupakan cermin dari kebudayaan dan tingkat pencapaian masyarakat yang sangat kompleks. Salah satu lembaga yang dapat digunakan sebagai tempat pembelajaran peradaban manusia adalah museum. Museum merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang dapat memberikan banyak pembelajaran bagi manusia. Museum merupakan sarana belajar tanpa mengambil peran guru. Keberadaan museum mampu menjawab pertanyaan yang muncul dalam proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan sejarah perkembangan manusia, geologi, budaya dan lingkungan. Secara etimologis, museum berasal dari bahasa Yunani yaitu mouseion yang merujuk pada bangunan suci untuk memuja dewa yang melambangkan ilmu pengetahuan dan kesenian. International Council of Museums (ICOM) pada tahun 2007 mendefinisikan museum sebagai institusi permanen, tanpa mencari keuntungan, bersifat melayani kepentingan publik, terbuka untuk umum dengan cara melakukan usaha koleksi, konservasi, riset, komunikasi dan memamerkan benda-benda nyata pembuktian manusia dan lingkungannya kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, penelitian dan kesenangan [1] . Mengacu kepada hasil musyawarah umum ke-11 (11 th General Assembly) ICOM pada tanggal 14 Juni 1974 di Denmark, dikemukakan beberapa fungsi museum diantaranya sebagai berikut [2] . 1. Pengumpulan dan pengamanan warisan alam dan budaya. 2. Dokumentasi dan penelitian ilmiah. 3. Konservasi dan preservasi. 4. Penyebaran dan pemerataan ilmu untuk umum. 5. Visualisasi warisan alam dan budaya. 6. Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia. Disamping itu, ICOM mendefinisikan virtual museum sebagai konsep yang secara umum mengidentifikasikan masalah pada ruang lingkup museal. Virtual museum tidak selalu merupakan sistem yang terkomputerisasi dan terkoneksi dengan basis data. Sekumpulan koleksi tiruan pun dapat disebut sebagai virtual museum. Virtual museum merupakan museum dalam exterior theatre of operations. Jadi, pada akhirnya, virtual museum lebih merupakan paket-paket solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan museum. Elin Ivarsson dalam tesisnya tahun 2009 menyebutkan [3] : Today the definition of the virtual museum is coming closer to that of what a physical museum is. It is no longer only a website with information presented through multimedia, or a website with a database connected to it.