Ekonomis: Journal of Economics and Business, 5(2), September 2021, 526-534 Publisher: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Batanghari Jambi Address: Jl. Slamet Ryadi, Broni-Jambi Kodepos: 36122 Website: http://ekonomis.unbari.ac.id, email: ekonomis.unbari@gmail.com ISSN 2597-8829 (Online), DOI 10.33087/ekonomis.v5i2.409 526 Pengaruh Ukuran Perusahaan, Ukuran Dewan Komisaris, Dan Pengungkapan Modal Manusia Terhadap Kinerja Perusahaan di Indonesia Reka Davinda, Mukhzarudfa, Gandy Wahyu Maulana Zulma* Universitas Jambi *Correspondence email: maulanagandi25@unja.ac,id Abstract. This study aims to empirically prove the effect of firm size, board of commissioners and human capital disclosure on firm’s performance of consumer goods industry companies listed on the Indonesia Stock Exchange from 2015 - 2019. The independent variables in this study are firm size, board of commissioners, and human capital disclosure with the dependent variable is firm’s performance. The sample used in this study is data from consumer goods industry companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2015-2019 with a purposive sampling method of 25 companies. The analytical method used in this research is multiple linear regression analysis. The founds from this study show that board of commissioners and human capital disclosure are affecting firm’s performance, while firm’s size doesn’t affect firm’s performance. Keywords: firm size, board of commissioners, human capital, disclosure, performance. Pendahuluan Dunia bisnis saat ini semakin dinamis seiring dengan perkembangan teknologi, dimana akibatnya kemudahan mendapatkan informasi menjadi lebih mudah, ditambah dengan adanya perubahan paradigma bisnis dari labor-based business menuju knowledge-based business. Hal ini menyebabkan perusahaan berkompetisi dalam menyajikan informasi baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif atas aktivitasnya sebagai dasar pengambilan keputusan bagi para pemakai informasi itu sendiri, dikarenakan pelaporan keuangan tradisional saja belum cukup merepresentasikan perusahaan secara menyeluruh (Mulyadi & Panggabean, 2017). Human capital merupakan suatu konsep yang baru lahir dalam beberapa puluh tahun terakhir oleh Theodore Schultz, Gary Becker, dan Jacob Mincer (Harteg, Joop. Brink, 2007). Konsep ini muncul karena konsep ekonomi tradisional tidak dapat memecahkan permasalahan yang ada pada negara kurang berkembang. Di Indonesia sendiri, konsep modal intelektual yang salah satu komponennya yaitu modal manusia, sudah berkembang sejak adanya PSAK No.19 tentang aktiva tak berwujud (Ulum, Ghozali, & Chariri, 2008). Untuk memecahkan permasalahan ini, ia berpendapat bahwa meningkatkan kesejahteraan tidak hanya dapat dilakukan melalui asset fisik, tetapi harus pada peningkatan pengetahuan. Kinerja dalam suatu perusahaan sangat bermanfaat bagi berbagai pihak (stakeholders) seperti investor, kreditur, analisis, konsultan keuangan, pialang, pemerintah, dan pihak manajemen itu sendiri. Laporan keuangan yang berupa neraca dan laporan laba rugi dari suatu perusahaan bila disusun secara baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang dicapai oleh suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu (Harjito, 2010). Kinerja menjadi sesuatu hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan, karena kinerja adalah cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumberdayanya. Pendekatan yang sering digunakan dalam menilai kinerja adalah dengan mengevaluasi data akuntansi perusahaan berupa laporan- laporan yang dikeluarkan perusahaan, khususnya laporan keuangan (neraca, posisi keuangan, dan catatan atas laporan keuangan) (Ferdiansyah, 2018). Ukuran perusahaan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan naik turunnya kinerja suatu perusahaan (Epi, 2017). Ukuran perusahaan memerlukan penggunaan dana eksternal yang digunakan oleh perusahaan karena perusahaan dalam skala besar membutuhkan dana yang besar pula untuk menjalankan operasinya (Oktaviana, 2016). Pendanaan eksternal adalah salah satu cara pemenuhan dana tersebut, dan total aset perusahaan biasanya dijadikan ukuran suatu perusahaan karena memiliki sifat yang jangka panjang. Ukuran perusahaan yang besar juga dapat menentukan bagaimana perusahaan tersebut menghasilkan laba dan keuntungan kompetitif lainnya, seperti kekuatan pasar, di mana perusahaan besar akan lebih fleksibel dalam menentukan harga produknya yang berimplikasi pada kinerja perusahaan (Azzahra & Nasib, 2019). Ukuran dewan komisaris merupakan salah satu bentuk dari mekanisme tata kelola perusahaan, di mana dewan komisaris menjadi salah satu bagian dari struktur tata kelola perusahaan. Ukuran dewan komisaris bereperan penting dalam mewujudkan good corporate governance, yang berfungsi sebagai mekanisme pengawasan dan memberikan arahan bagi manajemen (FCGI, 2002). Oleh karena itu, maka dapat dikarakan bahwa dewan komisaris dapat menjadi pusat ketahanan dan kesuksesan perusahaan yang ditunjukkan