Media Konservasi Vol. 22 No. 2 Agustus 2017: 49-63 49 PEMODELAN SPASIAL KESESUAIAN HABITAT AKASIA HIJAU (Acacia decurens) DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU (The Spatial Suitable Habitat Model of Acacia decurrens in Mount Merbabu National Park) YOKO UNTORO 1) , AGUS HIKMAT 2) DAN LILIK BUDI PRASETYO 3) 1) Mahasiswa Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, IPB 2) Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan, IPB Email: yoko.untoro@gmail.com Diterima 10 April 2017 / Disetujui 19 Juli 2017 ABSTRACT Green wattle (Acacia decurrens) is an invasive alien species (IAS) found in the Mount Merbabu National Park (TNGMb). This study aim to obtain spatially studies on habitat suitability models of A. decurrens in TNGMb region. In fact, this species became as a high invasive and dominance in the TNGMb and contributes the negative impact to the ecosystem. In addition, the result of this study should be useful for controling activities of A. decurrens. Predictor variables in this research were (altitude, slope, rainfall, air temperature, distance from river, NDVI, NDMI, distance from hiking trail, and distance from burnt area). The survey was conducted with random sampling of presence or absence of A. decurrens by marking the coordinate point of location using GPS. Data analysis in this research was used binary logistic regression enter method. Binary logistic regression involves the data acquisition of the presence and absence of A. decurrens as the y variable, while the predictor variable map as the variable x. The type of spatial distribution of A. decurrens in the TNGMb was identified as clumped. The Nagelkerke R 2 values obtained in the model was 39,2%, while 60,8% was explained by other variables were not used in the model. The results of the logistic regression model showed a high percentage of suitability of 64,29%, a medium suitability of 28,57%, and a low suitability of 7.14% then the Implications for controlling activities of A. decurrens in TNGMb could be prioritized in high suitability habitat. Keywords: Acacia decurrens, green wattle, invasive, spatial suitable habitat ABSTRAK Akasia hijau (Acacia decurrens) di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) merupakan spesies asing invasif (invasive alien species). Penelitian ini bertujuan mendapatkan kajian secara spasial mengenai model kesesuaian habitat A. decurrens di kawasan TNGMb karena jenis ini telah terbukti invansif dengan tingkat dominansi tinggi di kawasan TNGMb sehingga berdampak negatif terhadap ekosistem di kawasan tersebut. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan untuk menyusun rencana implikasi pengendalian spesies tersebut. Variabel prediktor dalam penelitian ini yaitu: (ketinggian, slope, curah hujan, suhu permukaan, jarak dengan sungai, NDVI, NDMI, jarak dari jalur pendakian dan jarak dari areal bekas kebakaran hutan). Survey lapangan dilakukan dengan sampling acak lokasi presence atau absence keberadaan A. decurrens serta penandaan titik koordinat lokasinya dengan GPS. Analisis data dalam penelitian ini dipergunakan regresi logistik biner metode enter. Regresi logistik biner melibatkan hasil perolehan data berupa titik presence dan absence A. decurrens sebagai variabel y, sedangkan peta variabel prediktor sebagai variabel x. Hasil identifikasi sebaran spasial dari A. decurrens di kawasan TNGMb teridentifikasi memiliki sebaran yang mengelompok. Nilai Nagelkerke R 2 yang diperoleh dalam model sebesar sebesar 39,2%, sedangkan sebesar 60,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam model. Hasil dari model regresi logistik menunjukkan persentase kesesuaian tinggi sebesar 64,29%, kesesuaian sedang sebesar 28,57%, dan kesesuaian rendah sebesar 7,14%. Implikasi terhadap kegiatan pengendalian invasi A. decurrens di TNGMb dapat diprioritaskan di areal kesesuaian habitat tinggi. Kata kunci: Acacia decurrens, akasia hijau, invasif, model kesesuaian habitat PENDAHULUAN Acacia spp yang tersebar di Indonesia beberapa diantaranya telah terindikasi menjadi spesies invasif, misalnya Acacia nilotica di TN Baluran yang telah menekan pertumbuhan rumput dan mengurangi luasan padang rumput (Siswoyo 2014). Daerah lain yang telah terjadi perkembangan pesat dari jenis A. decurrens yaitu di kawasan TN Gunung Merapi terutama di areal-areal terbuka yang disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi tahun 2010 (Wibowo 2015). Akasia hijau (Acacia decurrens) merupakan spesies yang berasal dari Australia dan merupakan salah satu jenis dari genus Acacia spp yang sudah tersebar di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Acacia decurrens dimanfaatkan untuk keperluan industri hasil hutan, agroforestry dan bahan ornamen (Breton et.al. 2008). Keberadaan A. decurrens di Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) merupakan spesies asing invasif (invasive alien species) dan dengan tingkat dominansi yang tinggi (Purwaningsih 2010). Dominansi yang tinggi tersebut dapat mengancam stabilitas ekosistem di kawasan TNGMb. Spesies ini dibawa ke Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda dan keberadaannya di TNGMb ditanam oleh Perum Perhutani sebagai tanaman untuk keperluan industri (Purwaningsih 2010). Kawasan TNGMb yang ditetapkan pada tahun 2004, beberapa areal di dalamnya merupakan bekas konsesi Perum