Jurnal Talenta Sipil Volume 5 Nomor 1, Februari 2022, 158-164 Publisher by Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Batanghari ISSN 2615-1634 (Online), DOI 10.33087/talentasipil.v5i1.109 158 Analisa Metode FAA dan ICAO-LCN pada Perencanaan Perkerasan Runway di Bandar Udara Silampari Lubuklinggau Suci Ryski Nur Afriyani, Viktor Suryan Politeknik Penerbangan Palembang Correspondence email: suci_tr01a@poltekbangplg.ac.id Abstrak. Bandar Udara Silampari Lubuklinggau merupakan salah satu Bandar Udara perintis yang ada di Sumatera Selatan, Bandar Udara ini terletak didaerah strategis secara geografis karena terletak dipersimpangan Sumatera bagian Selatan yaitu diantara Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu, membuat Bandar Udara ini cukup potensial. Bandar Udara Silampari memiliki panjang Runway 2.225 × 30 dengan klasifikasi runway 4C dengan instrument Non Presisi (1800 ≤ ARFL) (24 ≤ WS < 36 m; 6m ≤ OMG < 9 m). Pada perencanaan perkerasan runway pada Bandar Udara Silampari Lubuklinggau yaitu menggunakan metode FAA secara (Federal Aviation Administration) yang perhitungannya secara grafis dan dengan menggunakan software FAARFIELD, selain itu pada analisa perencanaan perkerasan runway ini juga menggunakan metode LCN ( Load Classification Number). Berdasarkan hasil perhitungan perencanaan runway dengan menggunkan perkerasan lentur dan umur rencana perkerasan yaitu 20 tahun didapat hasil yaitu dengan menggunakan metode FAA (Federal Aviation Administration) secara grafis didapatkan tebal total perkerasan yaitu 76,2 cm dan pada metode FAA ( Federal Aviation Administration) menggunakan software FAARFIELD didapat sebesar 60,99 cm, sedangkan pada metode LCN ( Load Classification Number) didapat tebal total perkerasan yaitu 73,66 cm. Adapun material yang digunakan yaitu pada Subbase Course menggunakan agregat alam, lapisan Base Course menggunakan Asphal Concrete-Binder Course (AC-BC) dan Surface Course menggunakan aspal hotmix. Kata Kunci: FAA, ICAO-LCN, Perkerasan, Runway. PENDAHULUAN Seiring dengan pertumbuhan ekonomi di kota Lubuklinggau tiap tahunnya, kebutuhan transportasi juga terus meningkat. Salah satu moda transportasi yang berperan dalam mendukung kegiatan perekonomian yaitu transportasi udara. Pentingnya transportasi udara dalam proses kegiatan perekonomian, sehingga dapat memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi dengan cepat didaerah tersebut. Moda transportasi udara dikota Lubuklinggau sendiri yaitu Bandar Udara Silampari (IATA: LLG, ICAO: WIPB) atau yang biasa disebut LLG ini merupakan Bandar Udara kelas III yang hanya melayani penerbangan domestik ke Palembang dan Jakarta. Bandar Udara Silampari terletak di kelurahan Air Kuti, ‘ kecamatan Lubuklinggau ’ Timur ’’ Satu, kota Lubuklinggau, ‘ provinsi ‘ Sumatera ‘ Selatan dan berada 103,65 mdpl (340,04 dpl) (Kemenhub, 2015; Kemenhub, 2022). Bandar Udara Silampari termasuk hirarki Bandar Udara pengumpan yang mempengaruhi perkembangan ekonomi lokal dan sekitarnya sebagai Bandar Udara pengumpul dan sebagai prasarana pelayanan kegiatan lokal dan sekitarnya. Dengan demikian didukung juga dengan letak geografis yang strategis karena berada dipersimpangan Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu membuat Bandar Udara ini dapat melayani sekitar delapan kabupeten/kota seperti Lubuklinggau, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Lahat, Empat Lawang, Pagar Alam, Sorolangun, Curup dan lainnya, selain itu Bandar Udara ini memfasilitasi tiga provinsi sekaligus (Kemenhub, 2022). Bandar Udara Silampari memiliki klasifikasi runway 4C dengan instrument Non Presisi (1800 ≤ ARFL) (24 ≤ WS < 36 m; 6m ≤ OMG < 9 m), dengan panjang runway awal 2.225 × 30 dan akan diperluas menjadi 2.225 × 45 sesuai dengan KP 325 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Bandar Udara Silampari di Kota Lubuklinggau Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan (Kemenhub, 2015). Tabel 1. Klasifikasi Bandar Udara Kode Angka (Code i i Number) i Panjang Landas i i Pacu berdasarkan ‘ Referensi i Pesawat ‘ (Aeroplane Reference Field Length- ARFL) ‘ Kode Huruf ’ ‘ (Code Letter) ’ Bentang Sayap ’ (Wings ‘ Span-WS) ‘ Jarak Roda Utama ’ Terluar ‘(Outer Mean ‘ Gear-OMG) 1 ’ ‘ ARFL < 800 m ’ ‘ A ‘ WS < ‘ 15 m ‘ OMG < ' 4.5 m 2 ’ ‘ 800 m ≤ ARFL ‘ <1200 m ‘ B ‘ 15 m ≤ WS < 24 m ’ ‘ 4.5 m ≤ ‘ OMG < 6 m 3 ’ ‘ 1200 m ≤ ‘ ARFL < 1800 m ‘ C ‘ 24 m ≤ ‘ WS < ‘ 36 m ‘ 6 m ≤ OMG ’ < 9 m 4 ’ ‘ 1800 m ≤ ARFL ’ ‘D ‘ 36 m ≤ WS ’ < ‘ 52 m ‘9 m ≤ OMG < ‘ 14 m ‘ E 52 m ≤ WS < 56 m 9 m ≤ OMG < 14 m ‘ F ‘ 56 m ≤ WS ’ < ‘ 80 m ‘ 14 m ≤ OMG < 16 m Sumber: Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (diolah)