Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 6, D 043-050 https://doi.org/10.32315/ti.6.d043 Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017 | D 043 Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe ISBN 978-602-17090-8-5 E-ISBN 978-602-51605-0-9 Penggunaan Tritisan sebagai Arsitektur Tropis terhadap Rumah Tinggal Minimalis Syavir Latif 1 , Isma Yulianti 2 , Asiana Rahmawati 3 , Edward Syarif 4 1 Lab Perancangan Bangunan/ Departemen Arsitektur/ Fakultas Teknik/ Universitas Hasanuddin. 2,3 Mahasiswa Pascasarjana Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin. 4 Lab Disain Perumahan dan Lingkungan Permukima/ Departemen Arsitektur/ Fakultas Teknik/ Universitas Hasanuddin. Korespondensi : syavirlatif@yahoo.com Abstrak Indonesia termasuk negara beriklim tropis, maka bentuk rumah tinggal dan pemakaian elemen arsitektur juga tidak melupakan perilaku alam. Pesatnya pembangunan rumah tinggal yang tidak memperhatikan kenyamanan dalam merencanakan pembangunan rumah tinggal maka fungsi rumah tinggal tidak berfungsi secara optimal. Bentuk – bentuk desain rumah tinggal saat ini yang berbentuk modern ataupun minimalis sebegian besar tidak memperhatikan kenyamanan yakni penggunaan tritisan yang cenderung pendek dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya hal ini tidaklah tepat apabila desain yang diciptakan ingin mendapatkan kenyamanan. Untuk itu dalam menciptakan kenyamanan dalam rumah tinggal diperlukan penggunaan tritisan yang ideal pada rumah tinggal. Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan untuk menimalisir sinar matahari dan tampisan air hujan yang masuk kedalam rumah di perlukan bentuk tritsan yang miring dengan kemiringan berkisar antara 45 ◦ sampai dengan kemiringan 60 ◦ selain bentuk ukuran panjang dan lebar bentuk tritisan harus memberikan pembayangan pada bukaan serta menghalagi tampisan hujan masuk kedalam rumah. Desain yang ideal utnuk penggunaan tritisan pada daerah tropis yaitu Semakin lebar tritisan untuk rumah tropis akan semakin baik. Metode penelitian dilakukan dengan model kualitatif – deskriptif. Dengan penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan survey, observasi serta literatur. Kata-kunci : arsitektur tropis, atap tritisan, rumah tinggal minimalis Pendahuluan Sebagai Negara yang terletak di garis khatu- listiwa yang mendapatkan dua musim setiap tahun merupakan sebuah kenikmatan tersendiri karena bisa menikmati hangatnya sinar matahari dan gemercik air hujan. Dua musim ini yang dikenal sebagai iklim tropis dapat memberikan dampak positif dan negative pada hunian rumah tinggal. Kondisi iklim didaerah tropis sangat dipengaruhi oleh penyinaran matahari yang terjadi terus menerus setiah hari sepanjang tahun. Kondisi matahari inilah yang menjadi potensi sekaligus kendala iklim tropis. Cahaya matahari merupa- kan salah satu potensi iklim tropis yang melimpah setiap hari sepanjang tahun. Rata – rata daerah tropis menerima cahaya matahari hamper 12 jam sehari. Namun daerah dengan iklim tropis juga mempunyai permasalahan yaitu kondisi udara yang panas akibat suhu udara dan kelembaban udara yang tinggi. Kondisi udara yang panas tersebut dirasakan melebihi batas ambang kenyamanan. Rumah Tinggal bukan hanya sebuah bangunan (struktural), melainkan juga tempat kediaman yang memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, dipandang dari berbagai segi kehidupan masyarakat. Rumah dapat dimengerti sebagai tempat perlindungan, untuk menikmati kehidup- an, beristirahat dan bersuka ria bersama kelua- rga. (Frick dan Mulyani, 2006:1)