Agrinula : Jurnal Agroteknologi dan Perkebunan Volume 2 Nomor 2 Tahun 2019, hal. 28-32 28 RESPON PEMBERIAN PUPUK UREA DAN URINE SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PEMBIBITAN AWAL Asari Nasution Alumnus Program Studi Budidaya Perkebunan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Tjut Nyak Dhien, Medan 20123, Sumatera Utara, Indonesia. Ahmad Nadhira* Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Tjut Nyak Dhien, Medan 20123, Sumatera Utara, Indonesia. Email: ahmadnadhira@gmail.com Tengku Boumedine Hamid Zulkifli Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Tjut Nyak Dhien, Medan 20123, Sumatera Utara, Indonesia. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian respon pemberian pupuk urea dan urine sapi dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) di pembibitan awal. Penelitian ini dilaksanakan pada September sampai Desember 2015 di Kebun Masyarakat Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua taraf yaitu: faktor pertama: pemberian pupuk urea dengan 3 taraf: P0= tanpa pupuk urea; P1= pupuk urea 2 g/polibag; P2= pupuk urea 4 g/polibag. Faktor kedua: pemberian urine sapi 4 taraf: U0= tanpa urine sapi; U1= urine sapi 80 ml/polibag; U2= urine sapi 160 ml/polibag; U3= urine sapi 240 ml/polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk urea dapat meningkatkan tinggi bibit tanaman kelapa sawit umur 11 MST dengan dosis 4 g/polibag memberikan tinggi bibit kelapa sawit tertinggi 21,17 cm. Pemberian urine sapi belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman kelapa sawit. Interaksi antara pemberian pupuk urea dan urine sapi belum dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit di pembibitan awal. Kata Kunci: kelapa sawit, urea, urine sapi, vegetatif PENDAHULUAN Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memerlukan input hara cukup tinggi. Biaya produksi pupuk merupakan bagian terbesar dalam biaya pemeliharaan tanaman kelapa sawit. Pemupukan menjadi faktor penting dalam upaya mencapai produktivitas yang tinggi, terutama dalam memenuhi ketersediaan hara (Darmosakoro et al., 2007). Menurut Lubis, (1992) untuk menunjang pertumbuhan bibit kelapa sawit yang berkualitas, sangat diperlukan pemupukan salah satunya karena bibit kelapa sawit memiliki pertumbuhan yang sangat cepat dan membutuhkan cukup banyak pupuk. Selain jumlah pupuk majemuk yang diperlukan banyak juga sulit diperoleh dan mahal. Penggunaan pupuk anorganik terus menerus juga dapat merusak lingkungan. Pupuk urea adalah termasuk pupuk anorganik yang juga merupakan pupuk N (nitrogen). Urea termasuk pupuk yang higroskopis. Funsi utama pupuk urea adalah meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hijau daun (Lingga & Marsono, 2006) Penelitian Djojosuwito, (2000) menyatakan bahwa penggunaan pupuk buatan pabrik secara terus menerus dapat mengakibatkan kandungan bahan organik tanah dan ketersediaan hara akan turun dengan cepat, tanah mudah mengalami kekeringan dan sukar diolah sehingga secara tidak langsung dapat menurunkan produktivitas tanah dalam jangka waktu tertentu. Menurut Hadisuwito, (2007) pupuk organik cair merupakan salah satu alternative untuk mengurangi pemakaian pupuk anorganik yang diberikan melalui akar. Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantititas, mengurangi pencemaran lingkungan fdan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Pupuk organik baik berbentuk padat maupun cair mempunyai fungsi yang penting yaitu untuk menggemburkan lapisan tanah permukaan top soil, meningkatkan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air (Sutedjo, 1999; Anwar & Suganda, 2006). Pupuk kandang cair merupakan pupuk yang diperoleh dari urine hewan atau ternak. Urine hewan yang digunakan sebagai pupuk kandang berwarna coklat dengan bau yang menyengat. Bau ini disebabkan oleh kandungan unsur nitrogen (Novizan, 2007). Menurut Lingga & Marsono, (2006) kandungan hara dari urine sapi adalah N 1,00%; P 0,50%; K 1,50%. Mengingat pentingnya tanaman kelapa sawit sebagai tanaman perkebunan yang sangat penting serta mendapatkan perhatian serta prioritas dari pemerintah serta masyarakat Indonesia umumnya, dan urine sapi merupakan salah satu contoh pupuk organik cair yang diharapkan dapat digunakan sebagai pupuk alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Tujuan penelitian untuk mengetahui respon pemberian pupuk urea dan urine sapi dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq).