KEEFEKTIFAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK GROUP EXERCISE UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI PADA SISWA BROKEN HOME KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH CANGKRINGAN Devi Wulandari, Amien Wahyudi, Said Alhadi, Caraka Putra Bhakti 1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta email: Devi1515001057@webmail.uad.ac.id 2 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta email: amien.wahyudi@bk.uad.ac.id Abstract Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan bimbingan kelompok teknik group exercise untuk meningkatkan resiliensi pada siswa broken home kelas XI SMK Muhammadiyah Cangkringan. Jenis penelitian yang digunakan adalah Eksperimen dengan desain penelitian Pre-Eksperimental Design menggunakan model One-group pretest posttest design. Penentuan subjek menggunakan teknik Purposive Sampling. Subjek penelitian ini adalah 6 siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Cangkringan, dengan kategori resiliensi rendah. Teknik pengumpulan daya yang digunakan adalah skala resiliensi. Uji validitas menggunakan uji ahli dan uji lapangan, kemudian dinalisis menggunakan rumus product moment, sedangkan uji reabilitas menggunakan rumus alpha cronbach. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara statistik menggunakan rumus t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara resiliensi siswa sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan kelompok teknik group exercise. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa layanan bimbingan kelompok teknik group exercise efektif untuk meningkatkan resiliensi pada siswa broken home kelas XI SMK Muhammadiyah Cangkringan tahun ajaran 2019/2020 yang ditunjukan dari nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 7,260 > 2,015. Kata kunci: Resiliensi, Group Exercise PENDAHULUAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wasil Sarbini dkk (2014) tentang kondisi psikologis anak dari keluarga broken home mengalami dampak negatif seperti: rendah diri terhadap lingkungannya, temperamen atau mudah marah serta rasa kecewa yang berkepanjangan terhadap kedua orangtuanya. Namun tidak semua anak yang berasal dari keluarga broken home berperilaku negatif, ada juga anak broken home mampu untuk mengontrol diri, mempunyai motivasi yang tinggi, menerima kenyataan, serta memiliki kemampuan untuk bertahan dan bangkit dalam menghadapi situasi yang sulit atau disebut juga dengan resiliensi. Resiliensi yaitu menggambarkan kamampuan seseorang dalam merespon kesulitan atau trauma yang dihadapi dengan cara yang sehat dan produktif (Reivich dan Shatte, 2002). Hal tersebut sangat penting untuk mengendalikan tekanan hidup seseorang. Ada tujuh