Natasyia Sisca Eka Pratiwi, Diana Aqidatun Nisa, dan Aditya Rahman Yani Perancangan Komik Online Tentang Cara Menggunakan Media Sosial Dengan Bijak Pada Remaja Usia 15-17 Tahun 42 Perancangan Komik Online tentang Cara Menggunakan Media Sosial dengan Bijak pada Remaja Usia 15-17 Tahun Natasyia Sisca Eka Pratiwi, Diana Aqidatun Nisa, dan Aditya Rahman Yani Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Arsitektur dan Desain, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Surabaya, Indonesia e-mail: 17052010026@student.upnjatim.ac.id AbstrakRemaja adalah fase perkembangan dari anak-anak ke arah kedewasaan. Dalam perkembangannya, remaja berkaitan erat dengan bagaimana mereka bersosialisasi bersama teman sebaya di media sosial (Instagram, Twitter, dan Facebook) dengan cara mengirim pesan, upadate status, komentar postingan dan membagikan postingan. Permasalahan utama dari remaja hari ini adalah tentang kebiasaan mengupload konten sensitif yang menyinggung SARA dan melanggar UU ITE hanya demi menaikkan popularitas pribadi. Disamping itu, kecenderungan remaja saat ini suka membuat konten saling sindir di media sosial. Makalah ini membahas bagaimana merancang komik online tentang etika menggunakan media sosial secara bijak, untuk remaja usia 15- 17 tahun. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian yaitu dengan menggunakan kuesioner, observasi dan wawancara mendalam. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa deskriptif kualitatif menurut Milles dan Huffman. Dari proses analisis data tersebut maka, telah didapatkan keyword “Batasan berekspresi dan berkomunikasi di media sosial“ yang menjadi dasar konsep cerita dan konsep visual dalam perancangan komik online ini. Dengan adanya komik online ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran remaja terhadap etika menggunakan media sosial secara bijak, dan meningkatkan minat remaja untuk membuat konten positif di media sosial. Kata Kunciperancangan, komik online, media sosial, bijak, dan remaja. AbstractAdolescence is a phase of development from childhood to maturity. In their development, adolescents are closely related to how they socialize with peers on social media (Instagram, Twitter, and Facebook) by sending messages, updating status, posting comments, and sharing posts. The main problem of teenagers today is the habit of uploading sensitive content that offends SARA and violates the ITE Law just to increase their popularity. Besides that, the tendency of teenagers today to make satire content on social media. This paper discusses how to design online comics about ethics in using social media wisely, for adolescents aged 15-17 years. The method used to collect research data is by using a questionnaire, observation, and in-depth interviews. The analysis technique used in this study is a qualitative descriptive analysis technique according to Milles and Huffman. From the data analysis process, the keyword "Limits of expression and communication on social media" has been obtained, which is the basis for the concept of stories and visual concepts in designing this online comic. With the existence of this online comic, it is hoped that it can increase adolescent awareness of the ethics of using social media wisely and increase teenagers' interest in creating positive content on social media. Keywordsdesign, online comic, social media. wise, and teenagers. I. PENDAHULUAN Masa remaja identik dengan mencari jati diri, mencari perhatian, mencari koneksi atau teman dan mudah dipengaruhi teman sebaya dan lingkungannya [1]. Dalam kesehariannya remaja tak lepas dari media sosial dan internet yeng berfungsi sebagai sumber informasi, media hiburan dan media untuk berkomunikasi dengan teman sebaya melalui media sosial. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJJI) pada tahun 2020 kuartal Q2, mayoritas pengguna internet adalah remaja dengan usia 15-19 tahun sekitar 8,29% dan 10-14 tahun sekitar 8,31% [2]. Menurut Peg Strep seorang pemerhati digital, penyebab remaja mengakses media sosial yaitu remaja ingin mendapatkan perhatian melalui media sosial, meminta apresiasi berupa like, coment retweet sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan popularitas remaja, menumbuhkan citra yang terlihat baik di dunia maya dan sebagai pedoman hidup bersosialisasi sehingga sulit berpaling ke dunia nyata [3]. Media sosial merupakan media online yang memungkinkan para pengguna untuk saling terhubung, berkomunikasi berpartisipasi dan menciptakan konten dari media yang telah digunakan secara berama-sama oleh penggunanya. Namun fasilitas di media sosial memungkinkan remaja menyalagunakan media sosial seperti membuat konten sensitif, konten saling ejek, bebas berkomentar dan menyalurkan pendapat tanpa ada rasa khawatir di media sosial demi mendapatkan banyak like dan komentar di media sosial yang dapat berakibat fatal bagi diri sendiri. Contoh kasus pada aksi remaja SMA joget tik tok pada gerakan shalat [4]. Aksi tersebut secara langsung melanggar UU ITE pasal 28 yang melarang adanya perilaku orang yang sengaja membuat dan menyebarkan konten/informasi yang menimbulkan rasa kebencian individu, kelompok masyarakat tertentu yang berdasarkan ras, agama dan antar golongan [5]. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, telah dibuat media literasi edukasi untuk mengajak remaja menggunakan media sosial dengan bijak, seperti contohnya ebook yang dapat diakses seara online melalui portal website literasidigital.id/ dan www2.slideshare.net/. Akan tetapi menurut hasil kuesioner, yang disebarkan kepada 127